Medan | Neraca – Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, khususnya Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, memicu aksi tanggap cepat dari sekelompok mahasiswa Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) MAPAGRATWA Politeknik Negeri Medan (Polmed). Tanpa menunggu instruksi resmi dan hanya bermodalkan peralatan sederhana, lima relawan muda ini langsung bergerak menuju lokasi untuk membantu warga yang terjebak banjir..
Kelima relawan tersebut adalah Ahmad Robby Izri (Prodi Teknik Mesin), Nabil Azhar (Prodi Konversi Energi), Hafiz Alfalah (Prodi Teknik Mesin), serta Gilbert Moses Junior (Prodi TPJJ), dan seorang relawan yang dikenal dengan nama panggilan Bang Piscoy, yang bukan merupakan mahasiswa Polmed. Mereka berangkat pada dini hari dengan rencana awal menuju PLTU Pangkalan Susu. Namun akses menuju lokasi terputus, sehingga mereka memutuskan singgah dan fokus membantu warga di Kabupaten Langkat.
Menurut kesaksian Ahmad Robby dan Nabil Azhar, mereka berada di lokasi selama empat hari, mulai Kamis pagi hingga Minggu. Saat pertama tiba, kondisi warga sangat memprihatinkan. Banyak rumah terendam hingga setinggi dada orang dewasa, akses jalan lumpuh, dan sejumlah warga terisolasi, termasuk seorang nenek berusia 80 tahun yang terjebak tanpa pertolongan. Para relawan memprioritaskan evakuasi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, balita, serta warga yang sedang sakit.
Hingga pagi setelah mereka tiba, belum ada bantuan dari Basarnas maupun instansi lainnya. Melihat situasi tersebut, Tim MAPAGRATWA menurunkan perahu dan segera melakukan evakuasi mandiri. Basarnas baru dapat mencapai wilayah tersebut pada Sabtu lantaran sebelumnya terisolasi di daerah Besitang.
Selama empat hari berada di lokasi, tiga hari di antaranya digunakan untuk mengevakuasi warga serta menyalurkan bantuan. Dengan jumlah personel terbatas, mereka harus menjemput logistik sendiri ke pusat Kabupaten Langkat kemudian membawanya ke desa-desa terdampak. Salah satu momen yang paling membekas bagi mereka adalah ketika harus membawa seorang ibu hamil yang sedang diinfus ke rumah sakit pada tengah malam, menembus gelap dan derasnya arus banjir.
Selain berhadapan dengan kelelahan dan minimnya dukungan dari pihak tertentu, para relawan juga menyaksikan langsung kondisi lingkungan yang rusak. Menurut mereka, deforestasi dan dominasi perkebunan sawit di kawasan tersebut turut memperburuk dampak banjir. Mereka berharap pemerintah mengambil langkah tegas untuk menjaga kelestarian lingkungan guna mencegah kejadian serupa terulang.
Aksi MAPAGRATWA ini menunjukkan bahwa kepedulian tidak harus menunggu instruksi resmi. Di tengah situasi krisis, keberanian dan solidaritas para mahasiswa tersebut memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ke depan, mereka berharap semakin banyak mahasiswa yang tergerak terlibat dalam aksi sosial dan lingkungan, serta pemerintah dapat bergerak lebih cepat dan tanggap dalam penanganan bencana. (THA)