Medan | Neraca – Politeknik Negeri Medan (Polmed) untuk pertama kalinya menyelenggarakan Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) secara langsung guna memilih Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa periode 2025/2026.
Kontestasi tahun ini diikuti oleh dua pasangan calon (paslon). Paslon nomor urut 1 adalah Walid Fardan Harjoyudanto sebagai calon presiden mahasiswa dan Shobihah Wulan Agustina sebagai calon wakil presiden mahasiswa. Sementara itu, paslon nomor urut 2 adalah Ahmad Arya Attalah yang maju sebagai calon presiden mahasiswa didampingi oleh Amru Disyacitta Siswanto sebagai calon wakil presiden mahasiswa.
Rangkaian Pemira ini dilaksanakan selama dua hari. Agenda debat kandidat digelar pada Rabu, 10 Desember 2025 di Taman Gedung N Politeknik Negeri Medan. Sedangkan pemungutan suara dilaksanakan pada Jumat, 12 Desember 2025, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Gedung Serbaguna Politeknik Negeri Medan.
Pemira perdana ini menjadi tonggak penting dalam sejarah demokrasi mahasiswa Politeknik Negeri Medan karena untuk pertama kalinya pemilihan Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa dilaksanakan secara langsung melalui Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira) dengan melibatkan partisipasi mahasiswa secara luas dalam menentukan kepemimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sebelumnya, sistem pemilihan pimpinan mahasiswa di Politeknik Negeri Medan masih bersifat semi-Pemira dan belum melibatkan pemilihan langsung Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa oleh seluruh mahasiswa. Melalui Pemira 2025/2026, seluruh mahasiswa Politeknik Negeri Medan diberikan hak pilih yang sama untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi mahasiswa tertinggi di kampus tersebut. Proses pemilihan berjalan tertib dengan pengawasan ketat dari Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) serta Badan Pengawas Pemilihan Raya (BAWASRA).
Pelaksanaan Pencoblosan dan Prosedur TPS
Sejak pagi hari, mahasiswa mulai berdatangan ke Gedung Serbaguna Politeknik Negeri Medan untuk menggunakan hak pilihnya. Panitia KPUM menyiapkan beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan alur masuk dan keluar yang telah diatur secara sistematis. Pengaturan ini ditandai dengan penggunaan police line yang membentuk jalur khusus bagi pemilih.
Ketua KPUM Pemira Polmed, Khairul Yahya, menjelaskan bahwa setiap mahasiswa yang tiba di lokasi pencoblosan wajib menaati alur tersebut demi menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama. Mahasiswa diarahkan mulai dari titik registrasi, pengambilan surat suara, bilik pencoblosan, hingga jalur keluar TPS.
“Prosedurnya itu adalah mahasiswa harus menaati rute-rute yang telah kami siapkan melalui police line agar tidak terjadi kericuhan dan suasana tetap kondusif. Untuk mekanisme pencoblosannya, kami mengimbau agar penusukan dilakukan pada bingkai wajah pasangan calon atau pada nomor pasangan calon,” jelas Khairul.
Ia menambahkan bahwa KPUM telah menyampaikan ketentuan pencoblosan tersebut secara terbuka kepada seluruh pemilih. Apabila tanda coblos tidak sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan, maka suara tersebut akan dinyatakan tidak sah.
Upaya Pencegahan Kecurangan
Dalam upaya mencegah kecurangan, KPUM menerapkan sistem pengawasan berlapis serta berkoordinasi langsung dengan BAWASRA. Menurut Khairul, keberadaan police line, pengaturan jalur pemilih, serta pengawasan langsung menjadi strategi utama untuk meminimalisir potensi pelanggaran.
Selain itu, KPUM juga aktif melakukan sosialisasi kepada mahasiswa melalui penyebaran flyer serta pemberitahuan kampanye dan debat kandidat sebelum hari pencoblosan guna meningkatkan partisipasi pemilih.
Peran dan Pengawasan BAWASRA
Sebagai lembaga pengawas, BAWASRA Polmed memainkan peran penting dalam memastikan seluruh tahapan Pemira berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ketua BAWASRA Polmed, Sarah Liona Simanjuntak, menyampaikan bahwa meskipun Pemira ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan secara penuh, mekanisme pengawasan tetap mengacu pada undang-undang dan peraturan internal yang telah disahkan.
Menurut Sarah, BAWASRA telah melakukan pengawasan sejak tahap awal pembentukan KPUM, uji kelayakan pasangan calon, kampanye mandiri, kampanye bersama, debat kandidat, hingga hari pencoblosan dan penghitungan suara.
“KPUM bertugas sebagai pelaksana teknis, sedangkan kami di BAWASRA berperan sebagai pengawas. Setiap dugaan pelanggaran, baik yang dilakukan oleh pasangan calon, panitia, maupun pihak lain, akan kami terima dan proses sesuai dengan mekanisme yang berlaku,” ujarnya.
BAWASRA juga memastikan bahwa denah TPS dan sistem police line yang diterapkan telah disetujui bersama guna mencegah penumpukan massa dan meminimalisir potensi konflik di lapangan.
Mahasiswa diberikan ruang partisipasi aktif dalam pengawasan Pemira melalui penyediaan barcode pengaduan yang dapat diakses secara terbuka. Setiap laporan yang masuk akan diverifikasi berdasarkan bukti dan saksi yang ada.
Penghitungan Suara dan Transparansi Data
Penghitungan suara dilakukan secara langsung dan terbuka di lokasi pencoblosan serta disaksikan oleh KPUM, BAWASRA, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), saksi pasangan calon, serta tim sukses terkait. Proses ini turut didokumentasikan melalui video sebagai bentuk transparansi.
Sebagai bentuk transparansi, proses penghitungan suara juga disiarkan secara langsung melalui siaran live Instagram pada akun resmi @dpmpolmed. Selain itu, hasil sementara hingga hasil akhir pemilihan dapat diakses melalui laman resmi pemirapolmed.online, sehingga seluruh mahasiswa dapat memantau jalannya penghitungan suara secara real time.
Dari total 8.938 mahasiswa Polmed, tercatat 868 mahasiswa menggunakan hak pilihnya. Adapun hasil perolehan suara adalah sebagai berikut:
- Pasangan Calon 01: Walid Fardan Harjoyudanto & Shobihah Wulan Agustina memperoleh 363 suara.
- Pasangan Calon 02: Ahmad Arya Attalah & Amru Disyacitta Siswanto memperoleh 481 suara.
- Suara tidak sah tercatat sebanyak 24 suara.
Dengan perolehan suara tertinggi, Ahmad Arya Attalah dan Amru Disyacitta Siswanto resmi ditetapkan sebagai Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Medan periode 2025/2026.
Tanggapan Presiden Mahasiswa Terpilih
Presiden Mahasiswa terpilih, Ahmad Arya Attalah, menyampaikan rasa syukur dan bangganya setelah resmi ditetapkan sebagai pemenang Pemira Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Medan 2025/2026. Ia mengaku tidak menyangka dapat memperoleh kepercayaan mahasiswa dalam Pemira perdana ini.
“Tentunya saya tidak menyangka dan merasa bangga bisa sejauh ini hingga akhirnya diamanahkan sebagai Presiden Mahasiswa Polmed,” ungkap Ahmad Arya.
Ia menilai tantangan terbesar selama proses Pemira terletak pada upaya meyakinkan mahasiswa agar mau datang ke TPS dan menggunakan hak pilihnya. Selain itu, waktu pendaftaran yang relatif singkat juga menjadi kendala tersendiri bagi pasangan calon.
Menurutnya, Pemira perdana ini menunjukkan adanya kemajuan dalam demokrasi kampus, meskipun masih diperlukan evaluasi, khususnya dalam hal sosialisasi kepada mahasiswa.
Dalam masa kepemimpinannya, Ahmad Arya bersama Wakil Presiden Mahasiswa terpilih, Amru Disyacitta Siswanto, menyiapkan sejumlah program unggulan. Program tersebut meliputi PIKNIK (Pekan Ilmiah Politeknik), POLFEST (Polmed Festival), dan POLSASI (Polmed Revitalisasi), serta program-program lain yang akan dirancang oleh masing-masing departemen di BEM Politeknik Negeri Medan.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk membangun BEM Politeknik Negeri Medan yang kolaboratif, transparan, dan terbuka terhadap kritik serta masukan dari seluruh mahasiswa.
Harapan ke Depan
BAWASRA berharap Pemira Politeknik Negeri Medan ke depan dapat dipersiapkan dengan lebih matang, baik dari segi waktu, sosialisasi, maupun teknis pelaksanaan, agar partisipasi mahasiswa semakin meningkat.
Pemira perdana ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi penyelenggaraan pesta demokrasi mahasiswa yang lebih baik, jujur, adil, dan partisipatif di Politeknik Negeri Medan pada tahun-tahun mendatang. (EBN)