Artikel ini ditulis oleh: Euodia Evelyn
Akun media sosial yang menampilkan foto-foto mahasiswa berpenampilan menarik telah menjadi tren besar di dunia maya, menarik perhatian banyak orang baik di dalam maupun di luar kampus. Akun-akun ini sering menggunakan nama seperti “kampus cantik” atau “kampus ganteng” dan mengunggah foto-foto mahasiswa, biasanya perempuan, untuk mendapatkan pengikut dan interaksi berupa “like”.
Sebuah studi mengenai pengguna Instagram menemukan bahwa mengunggah foto dan pembaruan pribadi dapat menimbulkan risiko privasi yang serius. Mahasiswa di Indonesia khawatir mengenai berbagi informasi pribadi secara berlebihan karena hal itu dapat disalahgunakan atau menyebabkan identitas mereka terekspos secara berlebihan.
Laporan media menunjukkan bahwa beberapa akun “kampus cantik” mengunggah foto mahasiswa tanpa izin terlebih dahulu. Beberapa mahasiswi yang fotonya dibagikan mengalami masalah privasi, seperti menerima pesan pelecehan, komentar body-shaming, atau perhatian yang tidak diinginkan dari orang-orang di internet.
Situasi ini menuai banyak kritik. Beberapa pihak menilai akun-akun semacam ini berpotensi mengeksploitasi penampilan visual mahasiswa dan menjadikan mereka objek estetika atau komodifikasi tubuh. Kritik ini menekankan bahwa unggahan di akun “kampus cantik/ganteng” dapat mendorong standar kecantikan yang sempit dan memberi tekanan sosial bagi mereka yang tidak sesuai dengan standar tersebut.
Fenomena ini juga mencerminkan cara media sosial bekerja saat ini, di mana eksistensi, perhatian, dan popularitas sering kali terkait dengan penampilan fisik. Postingan di akun-akun tersebut biasanya mendapatkan banyak like, komentar, dan pengikut, yang mendorong pengelola akun untuk terus mengunggah foto mahasiswa. Praktik ini bahkan berpotensi mengarah pada monetisasi melalui endorsement atau promosi.
Beberapa peneliti dan aktivis menekankan pentingnya melindungi data pribadi dan bertindak secara etis saat membagikan foto mahasiswa. Mereka menyarankan agar publikasi foto, terutama dalam konteks kampus atau institusi pendidikan, selalu didasarkan pada persetujuan yang jelas dari orang yang bersangkutan serta mempertimbangkan dampak sosial dan psikologis bagi individu. Singkatnya, mendapatkan izin dan menghormati privasi harus menjadi hal utama sebelum membagikan foto secara publik.
Bagi mahasiswa dan komunitas media mahasiswa, fenomena ini menunjukkan pentingnya tanggung jawab dalam penggunaan media sosial. Kampus bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga ruang di mana nilai-nilai sosial dan etika berlaku. Oleh karena itu, setiap konten digital yang dibagikan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap individu maupun komunitas secara keseluruhan.
Tren “kampus cantik” atau “kampus ganteng” bukan sekadar tren ringan di media sosial. Fenomena ini nyata dan berpotensi memengaruhi privasi, etika, serta kesejahteraan mahasiswa yang ada dalam foto. Penelitian dan laporan media telah menunjukkan contoh nyata, sehingga isu ini perlu ditanggapi dengan serius.
Sumber:
https://e-journal.unair.ac.id/JISEBI/article/view/22106
https://kumparan.com/kumparannews/gelombang-akun-pencuri-foto-mahasiswi-cantik-1547695970773269831