Oleh: Assyifa
Beberapa tahun terakhir, pola makan berbasis nabati semakin banyak diminati masyarakat di berbagai belahan dunia. Penelitian kolaboratif YouGov dan Veganuary memperkirakan sekitar 25,8 juta orang mencoba pola makan vegan selama Januari 2025. Minat terhadap gaya hidup ini juga tercermin dari meningkatnya pencarian frasa “vegan food near me” yang melonjak lebih dari 5.000 persen pada 2021. Seiring dengan itu, industri pangan berbasis nabati pun terus berkembang. The Good Food Institute mencatat bahwa penjualan global produk alternatif daging nabati mencapai US$6,1 miliar pada 2022. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa veganisme bukan lagi sekadar pola makan yang dijalani oleh kelompok kecil, melainkan telah menjadi bagian dari perubahan cara masyarakat memandang konsumsi.
Vegan merupakan gaya hidup yang menghindari konsumsi maupun penggunaan produk yang berasal dari hewan. Dalam pola makan, seorang vegan tidak mengonsumsi daging, ikan, unggas, susu, telur, madu, maupun produk turunan hewani lainnya. Tidak hanya itu, banyak vegan juga menghindari penggunaan produk berbahan kulit, wol, sutra, atau kosmetik yang diuji pada hewan. Berbeda dengan vegetarian yang umumnya masih mengonsumsi susu atau telur, vegan menghindari seluruh produk hewani sehingga veganisme dipandang sebagai gaya hidup yang lebih menyeluruh, bukan sekadar pola makan.
Meningkatnya minat terhadap veganisme tidak terlepas dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap konsumsi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keputusan menjadi vegan umumnya didorong oleh beberapa faktor, seperti keinginan menjaga kesehatan, kepedulian terhadap kesejahteraan hewan, serta meningkatnya kesadaran akan dampak konsumsi terhadap lingkungan. Pergeseran tersebut mencerminkan bahwa makanan tidak lagi dipilih semata untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga menjadi bagian dari nilai dan prinsip yang diyakini seseorang.
Pilihan tersebut kemudian membawa berbagai perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sisi kesehatan, pola makan vegan yang kaya akan sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan polong-polongan berpotensi membantu menjaga kesehatan jantung, mengontrol tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, serta mengurangi risiko diabetes tipe 2 dan obesitas apabila diterapkan dengan perencanaan gizi yang baik. Di samping itu, pola makan ini juga mendorong sebagian orang untuk lebih memperhatikan asal-usul makanan, membaca label komposisi produk, hingga memilih produk cruelty-free sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih bertanggung jawab.
Perubahan tersebut juga berkaitan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Menurut Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM), pola makan vegan menghasilkan emisi gas rumah kaca, penggunaan lahan, dan konsumsi air yang lebih rendah dibandingkan pola makan tinggi produk hewani. Meski demikian, kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan tetap memerlukan dukungan dari berbagai pihak dan tidak hanya bergantung pada pilihan konsumsi individu.
Di balik berbagai manfaat tersebut, menjalani pola hidup vegan juga memiliki tantangan. Seorang vegan perlu memastikan kebutuhan vitamin B12, zat besi, kalsium, vitamin D, protein, dan asam lemak omega-3 tetap terpenuhi melalui perencanaan menu yang baik. Selain itu, beberapa produk vegan olahan masih dijual dengan harga yang relatif lebih tinggi karena dipengaruhi biaya bahan baku, penelitian dan pengembangan, serta proses produksi khusus. Di beberapa daerah, pilihan menu vegan juga belum banyak tersedia sehingga dapat menjadi kendala bagi mereka yang ingin mempertahankan pola makan tersebut.
Pada akhirnya, vegan bukanlah satu-satunya pola makan yang dapat mendukung hidup sehat maupun keberlanjutan. Academy of Nutrition and Dietetics menyatakan bahwa pola makan vegan yang direncanakan dengan tepat dapat memenuhi kebutuhan gizi pada setiap tahap kehidupan. Namun, tanpa perencanaan yang baik, pola makan ini juga berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi tertentu. Karena itu, keputusan untuk menjadi vegan sebaiknya didasarkan pada pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi dan kondisi masing-masing individu, bukan semata-mata mengikuti tren. Ketika isi piring berubah, yang ikut berubah bukan hanya jenis makanan yang dikonsumsi, tetapi juga cara seseorang memandang kesehatan, lingkungan, dan pilihan hidup yang dijalaninya.
Referensi:
https://www.vegansociety.com/news/media/statistics/worldwide
https://www.alodokter.com/vegan-cara-menjalani-gaya-hidup-tanpa-produk-hewani
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0969698922000455
https://www.veganok.com/en/5-key-drivers-behind-the-rise-of-vegan-products/
https://www.pcrm.org/good-nutrition/vegan-diet-environment
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0969698923003351