Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
PORTAL BERITA
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
LPM Neraca
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
Beranda Artikel

Belajar Berdamai dengan Hal yang Tak Bisa Dikendalikan: Ulasan The Let Them Theory

lpmneraca oleh lpmneraca
Juli 11, 2026
dalam Artikel
0 0
0

Sumber foto: https://pin.it/3pT3YV1AG

18
PENONTON
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Azriel Ikhsan 

Di tengah kehidupan yang kian dipenuhi tuntutan untuk selalu diterima, disukai, dan memenuhi ekspektasi orang lain, banyak individu tanpa sadar menghabiskan energi untuk mengendalikan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kuasa mereka. Mulai dari berusaha menyenangkan semua orang, mengkhawatirkan penilaian orang lain, hingga memaksakan hubungan yang tidak lagi sehat. Dalam situasi seperti ini, The Let Them Theory karya Mel Robbins hadir membawa gagasan yang terdengar sederhana, tetapi mengundang refleksi: “Let Them.”

Buku yang diterbitkan oleh Hay House ini dengan cepat menjadi salah satu buku pengembangan diri yang banyak diperbincangkan. Popularitasnya tidak hanya berasal dari nama Mel Robbins, penulis The 5 Second Rule sekaligus pembawa podcast populer, tetapi juga dari konsep yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam waktu relatif singkat, buku ini menjadi buku terlaris dan memperoleh ratusan ribu ulasan pembaca di berbagai platform, menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap pesan yang dibawanya.

Berbeda dengan banyak buku motivasi yang menawarkan langkah-langkah kompleks menuju kesuksesan, Mel Robbins justru memulai dengan dua kata sederhana: “Let Them.” Menurutnya, sebagian besar stres muncul karena individu terlalu sibuk mengatur bagaimana orang lain seharusnya berpikir, bersikap, atau memperlakukan dirinya. Ketika seseorang memilih pergi, tidak menyukai kita, atau mengambil keputusan yang tidak sesuai harapan, respons awal yang ditawarkan Robbins adalah membiarkan hal tersebut terjadi.

Namun, buku ini tidak berhenti pada sikap pasif. Setelah “Let Them”, Robbins memperkenalkan konsep “Let Me”, yakni mengalihkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar dapat dikendalikan: diri sendiri, keputusan yang diambil, serta cara merespons keadaan.

Konsep tersebut menjadi kekuatan utama buku ini. Robbins tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga memperkaya pembahasan melalui pengalaman pribadi, kisah pembaca, serta penjelasan psikologis yang disampaikan dengan bahasa sederhana. Pembaca tidak dibuat merasa sedang membaca buku ilmiah yang berat, melainkan diajak berdialog secara reflektif dengan penulis. Gaya penulisannya lugas, komunikatif, dan empatik sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

Salah satu aspek yang membuat buku ini relevan adalah kemampuannya mengangkat persoalan yang kerap dianggap sepele. Robbins menunjukkan bahwa rasa lelah, cemas, atau kecewa sering kali bukan semata-mata disebabkan oleh tindakan orang lain, melainkan oleh keinginan individu untuk mengendalikan sesuatu yang memang tidak dapat dikendalikan. Dari hubungan pertemanan, keluarga, percintaan, hingga dunia kerja, pembaca diajak melihat bahwa kebebasan emosional dimulai ketika seseorang berhenti menggantungkan ketenangan pada perilaku orang lain.

Meski demikian, gagasan yang ditawarkan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya baru. Prinsip menerima kenyataan dan melepaskan hal-hal di luar kendali telah lama dikenal dalam berbagai aliran filsafat, seperti Stoisisme, maupun dalam ajaran Buddhisme yang menekankan bahwa penderitaan muncul karena manusia menolak realitas. Perbedaannya terletak pada cara Robbins menyederhanakan konsep tersebut ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami pembaca modern. Alih-alih menggunakan istilah filosofis yang kompleks, ia memilih kalimat singkat yang mudah diingat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah letak keunggulan buku ini: bukan pada kebaruan teori, melainkan pada cara penyampaiannya yang dekat dengan pembaca.

Di sisi lain, buku ini tidak lepas dari kritik. Sejumlah pembaca menilai bahwa inti gagasan sebenarnya sudah dapat dipahami dalam beberapa bab awal. Pembahasan selanjutnya dinilai repetitif karena mengulang pesan serupa melalui contoh yang berbeda. Selain itu, ada pula pandangan bahwa konsep “Let Them” tidak selalu dapat diterapkan pada situasi yang kompleks, terutama ketika tindakan orang lain berdampak signifikan dan tidak dapat diabaikan. Kritik tersebut menunjukkan bahwa meskipun konsep ini terasa membebaskan, penerapannya tetap memerlukan kebijaksanaan dan tidak dapat dijadikan solusi tunggal bagi setiap persoalan.

Terlepas dari berbagai kritik tersebut, The Let Them Theory tetap memiliki nilai sebagai buku pengembangan diri. Robbins tidak mengajarkan pembaca untuk bersikap acuh tak acuh. Sebaliknya, ia mendorong pembaca untuk membedakan antara menerima kenyataan dan menyerah pada keadaan. “Let Them” bukan berarti membiarkan diri diperlakukan semena-mena, melainkan menyadari bahwa individu tidak memiliki kendali atas pilihan orang lain. Sementara itu, “Let Me” menjadi pengingat bahwa setiap individu tetap memiliki kuasa untuk menentukan respons, menetapkan batasan, dan memilih langkah terbaik bagi dirinya.

Dari segi penyajian, buku ini tergolong ringan dan mudah diikuti. Setiap bab disusun secara sistematis serta dilengkapi contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga pesan yang disampaikan tidak terasa menggurui. Namun, bagi pembaca yang telah akrab dengan literatur pengembangan diri atau filsafat Stoisisme, sebagian isi buku mungkin terasa familiar dan tidak memberikan banyak perspektif baru.

Pada akhirnya, The Let Them Theory bukan sekadar membahas cara menghadapi orang lain, tetapi juga cara memahami diri sendiri. Buku ini mengingatkan bahwa kedamaian tidak selalu hadir ketika keadaan berubah sesuai keinginan, melainkan ketika seseorang berhenti memaksakan kendali atas hal-hal yang memang tidak dapat diubah. Mel Robbins mungkin tidak menawarkan teori yang sepenuhnya baru, tetapi ia berhasil menyampaikan pesan yang sederhana, relevan, dan mudah dipahami dalam konteks kehidupan modern.

Dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, The Let Them Theory layak menjadi salah satu bacaan pengembangan diri, terutama bagi mereka yang kerap merasa terbebani oleh ekspektasi, penilaian, atau keputusan orang lain. Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari mengubah dunia di sekitar, melainkan dari keberanian untuk melepaskan hal-hal yang memang tidak pernah berada dalam kendali.

 

Referensi:

https://www.melrobbins.com/book/the-let-them-theory/

https://ebooks.gramedia.com/id/buku/the-let-them-theory

https://www.allysonbrunette.com/blog/book-review-letthemtheory

https://milesofcomfortandbooks.com/the-let-them-theory-by-mel-robbins-book-review/

Tag: book reviewhay houselet melet themmel robbinsreviewthe let them theorytheory

Terkait Pos-pos

Artikel

Ketika Isi Piring Berubah: Tren Vegan yang Menggeser Gaya Hidup

oleh lpmneraca
Juli 9, 2026
0

Oleh: AssyifaBeberapa tahun terakhir, pola makan berbasis nabati semakin banyak diminati masyarakat di berbagai belahan dunia. Penelitian kolaboratif  YouGov dan...

Baca lebih lanjut

Pulau Kalimantung: Surga Tersembunyi di Pantai Barat Sumatera Utara

Juli 8, 2026

Di Balik Kasus Dr. Icha: Intimidasi terhadap Tenaga Kesehatan yang Tak Boleh Diabaikan

Juli 7, 2026

Lagu ‘drop dead” Olivia Rodrigo: Awal Era Baru dengan Kisah Jatuh Cinta yang Relate

Juli 7, 2026

Koperasi Desa Merah Putih: Jalan Baru Ekonomi Desa atau Proyek Penuh Risiko?

Juli 6, 2026

Lebih dari Sekadar Trofi: Piala Dunia FIFA 2026 dan Wajah Baru Sepak Bola Dunia

Juli 3, 2026

Popular Posts

Artikel

Belajar Berdamai dengan Hal yang Tak Bisa Dikendalikan: Ulasan The Let Them Theory

oleh lpmneraca
Juli 11, 2026
0

Oleh: Azriel Ikhsan Di tengah kehidupan yang kian dipenuhi tuntutan untuk selalu diterima, disukai, dan memenuhi ekspektasi orang lain, banyak individu...

Baca lebih lanjut

Belajar Berdamai dengan Hal yang Tak Bisa Dikendalikan: Ulasan The Let Them Theory

Ketika Isi Piring Berubah: Tren Vegan yang Menggeser Gaya Hidup

Pulau Kalimantung: Surga Tersembunyi di Pantai Barat Sumatera Utara

Di Balik Kasus Dr. Icha: Intimidasi terhadap Tenaga Kesehatan yang Tak Boleh Diabaikan

Lagu ‘drop dead” Olivia Rodrigo: Awal Era Baru dengan Kisah Jatuh Cinta yang Relate

Koperasi Desa Merah Putih: Jalan Baru Ekonomi Desa atau Proyek Penuh Risiko?

Muat Lebih Banyak


Popular Posts

Kekecewaan Cinta dalam Lagu ‘I Don’t Love You’ dari My Chemical Romance

oleh lpmneraca
Maret 15, 2024
0

Birds of a Feather Karya Billie Eilish Ungkapkan Cinta yang Obsesif dan Posesif

oleh lpmneraca
Juli 17, 2024
0

Drunk Text by Henry Moodie: Mengungkap Perasaan Cinta Dalam Diam dan Ketakutan Friendzone

oleh lpmneraca
Februari 20, 2024
0

LPM Neraca

© 2024 LPM Neraca Polmed

Contacts

Follow Us

Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami

© 2024 LPM Neraca Polmed

Selamat Datang Kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Lupa Kata Sandi?

Buat Akun Baru!

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Semua bidang diisi. Masuk

Dapatkan kembali kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Masuk

Tambahkan Daftar Putar Baru