Penulis: Euodia Evelyn Beatrix Br Nainggolan
Bulan Ramadan selalu identik dengan tradisi berburu takjil, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Tak lama sebelum waktu berbuka puasa tiba, jalanan kota-kota dipenuhi pedagang kaki lima yang menawarkan beragam hidangan pembuka, mulai dari makanan gorengan dan kolak hingga minuman menyegarkan. Di tengah banyaknya pilihan takjil ini, inovasi kuliner baru terus bermunculan untuk mengikuti selera masyarakat yang terus berkembang. Selama Ramadan tahun ini, salah satu camilan yang paling banyak dibicarakan adalah “Risol Matcha,” sebuah variasi dari risol tradisional yang diisi dengan krim matcha, menawarkan pengalaman rasa yang berbeda dari risol pada umumnya.
Risol Matcha merupakan inovasi dari risol tradisional, yang sebelumnya dikenal sebagai camilan gurih berisi ragout ayam, sayuran, atau mayones. Dalam versi terbaru ini, isian gurih digantikan oleh krim matcha, yang memiliki rasa manis dengan sentuhan pahit khas teh hijau. Kombinasi kulit risol yang renyah dan krim matcha yang lembut menciptakan pengalaman rasa unik yang menarik perhatian publik, terutama di kalangan generasi muda, yang senang mencoba makanan baru dan tidak biasa.
Popularitas risol matcha sangat erat kaitannya dengan peran media sosial dalam menyebarkan tren kuliner. Belakangan ini, banyak konten yang menampilkan risol matcha bermunculan di platform seperti TikTok dan Instagram. Video yang memperlihatkan proses pembuatan risol dengan krim matcha yang meleleh saat dipotong memiliki daya tarik tersendiri bagi pengguna media sosial. Visual yang menarik tersebut memicu rasa penasaran banyak orang untuk mencoba camilan ini, baik dengan membelinya di lapak takjil maupun membuatnya sendiri di rumah.
Fenomena makanan viral yang menyebar melalui media sosial semakin umum terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai platform untuk berbagi informasi tentang berbagai tren, termasuk tren kuliner. “Digital Report 2024 Indonesia,” yang diterbitkan oleh DataReportal bekerja sama dengan We Are Social dan Meltwater, menunjukkan bahwa penggunaan media sosial di Indonesia sangat tinggi, sehingga informasi tentang tren makanan dapat menyebar dengan cepat dan memicu minat masyarakat untuk mencobanya.
Ramadan juga turut memunculkan tren kuliner baru. Tradisi berburu “takjil,” yang telah lama menjadi bagian dari budaya sosial, menyebabkan meningkatnya permintaan akan camilan menjelang waktu berbuka puasa. Situasi ini mendorong para pedagang untuk menghadirkan ide-ide menu yang beragam guna menarik minat pembeli. “Risol Matcha” muncul sebagai variasi dari “Takjil,” yang memadukan camilan tradisional dengan bahan-bahan yang sedang populer saat ini.
Matcha adalah jenis bubuk teh hijau yang berasal dari Jepang dan telah lama digunakan dalam berbagai jenis makanan dan minuman. Seiring waktu, matcha telah menjadi bahan umum dalam banyak hidangan penutup modern seperti kue, es krim, minuman kopi, dan camilan. Rasa khas matcha, yang memiliki rasa manis dan sedikit pahit, membuatnya menonjol, itulah sebabnya matcha sering digunakan sebagai bahan kreatif dalam masakan.
Di banyak daerah, risol matcha dijual oleh pedagang takjil selama bulan Ramadan. Camilan ini biasanya dijual bersamaan dengan makanan gorengan lainnya seperti pastel, lumpia, atau risol mayo. Namun, risol matcha memiliki daya tarik tersendiri berkat penampilannya yang tidak biasa dan rasanya yang unik. Warna hijau matcha kontras dengan adonan risol yang berwarna cokelat keemasan, sehingga hidangan ini terlihat menggugah selera dan menarik perhatian pembeli.
Risol matcha bukan hanya tren kuliner, tetapi juga membuka peluang bisnis baru bagi masyarakat lokal. Banyak pemilik usaha kecil memanfaatkan popularitas camilan viral ini sebagai ide untuk menjual takjil selama Ramadan. Dengan bahan-bahan yang relatif sederhana seperti adonan risol, susu, gula, dan bubuk matcha, camilan ini dapat diproduksi dengan investasi modal yang minimal. Hal ini menjadikan Risol Matcha sebagai pilihan yang menjanjikan untuk usaha kuliner musiman.
Fenomena Risol matcha juga menunjukkan bagaimana masakan tradisional dapat berkembang sebagai respons terhadap perubahan preferensi rasa masyarakat. Inovasi dalam rasa dan penyajian merupakan faktor kunci dalam menarik perhatian konsumen, terutama di era digital, di mana makanan dinilai tidak hanya berdasarkan rasanya tetapi juga penampilannya yang menarik secara visual, yang sangat cocok untuk dibagikan di media sosial.
Bagi masyarakat, kemunculan risol matcha menghadirkan sentuhan baru dalam tradisi berbuka puasa. Takjil kini bukan sekadar hidangan untuk mengisi perut setelah seharian berpuasa, melainkan juga telah menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang menyenangkan. Saat ini, orang-orang tidak lagi hanya mencari makanan yang lezat, tetapi juga sesuatu yang unik dan menarik.
Sumber:
https://kumparan.com/berita-hari-ini/resep-risol-matcha-yang-viral-bisa-dibuat-di-rumah-26waOnPq4Hx
https://datareportal.com/reports/digital-2024-indonesia