Medan | Neraca – Pekan Olahraga dan Seni Nasional (PORSENI) XV Politeknik se-Indonesia resmi memasuki hari pertama pertandingan, Sabtu (25/7). Sebanyak lima cabang olahraga dan seni mulai dipertandingkan di sejumlah venue yang telah ditetapkan panitia, yakni futsal, bridge, panjat tebing, pencak silat, dan vocal group. Antusiasme atlet, panitia, maupun penonton mewarnai jalannya kompetisi yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari.
Pada hari pertama, pertandingan futsal digelar di GOR Futsal Disporasu, bridge di Gedung S Polmed, panjat tebing di Arena Panjat Tebing Kebun Bunga, pencak silat di Sumut Sport Centre, sedangkan cabang seni vocal group berlangsung pada malam hari di Gedung Z Polmed. Ajang dua tahunan ini diikuti sekitar 48 politeknik dari berbagai daerah di Indonesia dengan total kontingen mencapai lebih dari 1.000 peserta.
Futsal Hadirkan Pertandingan Sarat Drama
Cabang futsal menjadi salah satu pertandingan yang paling menyita perhatian penonton. Sorak sorai suporter memenuhi GOR Futsal Disporasu saat sejumlah kontingen saling berhadapan untuk memperebutkan poin pada hari pertama.
Salah satu pertandingan yang berlangsung sengit mempertemukan Politeknik Negeri Sriwijaya dengan Politeknik Ilmu Pelayaran Makassar. M.G.S. Rachael, pemain futsal Politeknik Negeri Sriwijaya yang baru pertama kali mengikuti PORSENI, mengatakan timnya telah menjalani persiapan selama tiga hingga empat bulan sebelum bertanding.
“Belum puas ya, walaupun kita menang, tapi namanya pertandingan pertama pasti berat untuk semua tim. Alhamdulillah kami bisa memberikan yang terbaik untuk hari ini,” ujarnya.
Antusiasme juga datang dari tribun penonton. Zamir Zuhri Al-Ghafari, mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya yang hadir mendukung timnya, menilai pertandingan berlangsung menarik sejak babak pertama.
“Sriwijaya sempat unggul duluan 1-0, namun di dua menit terakhir Makassar berhasil menyamakan kedudukan. Jadi seru banget,” katanya.
Di sisi lain, peserta dari PPN Makassar, Muhammad Adnan Tamsil, menyampaikan beberapa evaluasi terkait jalannya pertandingan. Menurutnya, terdapat miskomunikasi dalam kepemimpinan pertandingan yang memengaruhi ritme permainan timnya.
“Ada beberapa miskom. Bel sudah bunyi tapi pertandingan dilanjutkan, kemudian sempat ada instruksi time-out namun pertandingan tetap berjalan. Itu membuat kedudukan kami akhirnya disamakan,” jelasnya.
Meski demikian, Adnan tetap mengapresiasi kesempatan mengikuti PORSENI untuk pertama kalinya bersama cabang futsal PPN Makassar. Ia mengaku senang dapat bertemu dan berkompetisi dengan peserta dari berbagai politeknik di Indonesia.
Sementara itu, PIC Liaison Officer (LO) Cabang Futsal dan Mini Soccer, Kristin, menjelaskan bahwa persiapan penyelenggaraan telah dilakukan jauh sebelum pelaksanaan PORSENI. Berbagai agenda, mulai dari workshop manajer meeting, penyusunan buku panduan, koordinasi lintas lembaga, hingga pemusatan latihan atlet telah dipersiapkan sejak awal tahun.
“Sejauh ini acara berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Mulai dari opening ceremony hingga pertandingan hari ini berlangsung baik. Untuk futsal, seluruh pertandingan berjalan tepat waktu,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar panitia bukan berasal dari teknis pertandingan, melainkan penyesuaian jadwal rapat persiapan dengan aktivitas perkuliahan para panitia yang juga berstatus mahasiswa.
Panjat Tebing Jadi Ajang Pembuktian Atlet Muda
Di Arena Panjat Tebing Kebun Bunga, para atlet mulai bertanding pada kategori lead putra dan putri sejak pagi hari. Bagi sebagian peserta, PORSENI XV menjadi pengalaman pertama tampil di ajang nasional antarpoliteknik.
Hafiz Alfala, atlet Politeknik Negeri Medan pada nomor lead perorangan putra, mengatakan dirinya telah mempersiapkan diri sejak Februari 2026 dengan rutin berlatih di venue yang sama. Ia menyebut PORSENI sebagai batu loncatan menuju persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON).
Meski gagal melaju ke babak final, Hafiz tetap mengapresiasi jalannya pertandingan. Ia hanya berharap fasilitas di area karantina atlet dapat ditingkatkan, khususnya penyediaan tempat duduk bagi peserta yang menunggu giliran bertanding.
Pengalaman serupa dirasakan Guruh Abel Adisa Putra dari Politeknik Negeri Malang. Atlet yang baru pertama kali mengikuti PORSENI tersebut mengaku sempat grogi karena membawa nama institusi di kompetisi nasional pertamanya.
“Yang pasti deg-degan karena ini lomba nasional pertama saya. Tapi saya tetap menikmati pertandingan sebagai pengalaman,” tuturnya.
Di luar arena pertandingan, penonton juga memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan cabang panjat tebing. Apriyanto, mahasiswa Politeknik Negeri Medan, menilai pertandingan berlangsung seru dan menjadi wadah mempertemukan mahasiswa politeknik dari berbagai daerah. Ia berharap persiapan peralatan ke depan dapat dilakukan lebih awal agar pelaksanaan semakin optimal.
Sementara itu, Thirty selaku LO Panjat Tebing Divisi Logistik menjelaskan bahwa panitia telah melalui proses seleksi dan pembekalan sebelum bertugas di venue. Menurutnya, jalannya pertandingan secara umum berlangsung tertib sesuai dengan rencana yang telah disusun.
Bridge Tuntut Strategi dan Kekompakan
Pertandingan bridge di Gedung S Polmed turut menjadi pengalaman berharga bagi para atlet yang baru pertama kali tampil di PORSENI. Salah satunya Naoki Riveto Sriadi, mahasiswa Program Studi Manajemen Informatika semester 2 Politeknik Negeri Medan yang baru menekuni olahraga tersebut selama sekitar dua hingga tiga bulan.
“Awalnya tertarik setelah melihat permainan bridge di YouTube, lalu mulai belajar sendiri,” ujarnya.
Meski masih tergolong baru, Naoki menilai jalannya pertandingan berlangsung baik karena panitia dan wasit memberikan arahan yang jelas kepada para peserta. Menurutnya, tantangan terbesar dalam bridge adalah menjaga fokus saat menghadapi lawan yang lebih berpengalaman, sekaligus membangun komunikasi dan kepercayaan dengan pasangan.
“Yang paling dibutuhkan pemain bridge itu daya ingat, mental, kemampuan berhitung, serta komunikasi yang baik dengan partner,” katanya.
Naoki berharap bridge dapat semakin berkembang di Polmed melalui pembentukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Jangan takut mencoba hal baru, karena bermain bridge sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan,” tutupnya.
Cabang Lain Turut Meramaikan Hari Pertama
Selain futsal, panjat tebing, dan bridge, pertandingan pencak silat juga mulai mempertandingkan sejumlah nomor di Sumut Sport Centre. Sementara itu, cabang seni vocal group digelar pada malam hari di Gedung Z Polmed dengan menampilkan kemampuan vokal dan harmonisasi antarkontingen dari berbagai politeknik.
Meskipun setiap cabang memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda, seluruh rangkaian pertandingan hari pertama berlangsung kompetitif dengan tetap menjunjung tinggi sportivitas dan kebersamaan antar peserta.
Antusiasme Tinggi Warnai Pembukaan Kompetisi
Cuaca panas Kota Medan menjadi pengalaman baru bagi sebagian peserta dari luar daerah, terutama kontingen asal Makassar dan Malang. Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi semangat atlet maupun penonton untuk mengikuti setiap rangkaian pertandingan.
Beberapa peserta juga memberikan masukan terkait penambahan fasilitas pendukung, seperti penunjuk arah menuju venue, area berteduh, serta peningkatan kenyamanan bagi atlet di lokasi pertandingan. Di sisi lain, sejumlah narasumber mengapresiasi kesiapan Politeknik Negeri Medan sebagai tuan rumah, terutama dalam penyelenggaraan pembukaan dan koordinasi pertandingan di beberapa cabang olahraga.
Hari pertama PORSENI XV menjadi awal persaingan antarkontingen politeknik se-Indonesia. Dengan semangat sportivitas yang terus terjaga, rangkaian pertandingan dijadwalkan berlanjut pada hari-hari berikutnya hingga penutupan PORSENI XV. (SAS)