Medan | Neraca – Cerita tentang sebuah kota tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah. Bangunan lama, tradisi, kuliner, hingga kebiasaan masyarakat menjadi bagian dari cerita yang membentuk identitas Kota Medan. Namun, seiring bergantinya generasi, cerita-cerita tersebut perlu terus dikenalkan agar tidak semakin jauh dari ingatan masyarakat.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam diskusi Better City Talk bertajuk “Merawat Cerita, Membentuk Kota” yang digelar Clapham Collective bersama Medan Cultural Change, pada Sabtu (22/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Clapham Collective, Centre Point Medan, itu menjadi ruang bagi komunitas, profesional, dan masyarakat untuk membicarakan kembali berbagai cerita yang melekat pada Kota Medan.
Diskusi tersebut diikuti 61 peserta dengan menghadirkan tiga pembicara dari latar belakang berbeda, yakni Yulianto Qin selaku Administrator sekaligus Founder Urban Sketchers Medan, Rizky Nasution selaku Founder Medan Heritage, dan Ghandy November yang dikenal sebagai Content Creator. Jalannya diskusi dipandu Iki Sembiring dari Medan Cultural Change.
Pembahasan diawali dengan melihat bagaimana Kota Medan selama ini dipersepsikan oleh masyarakat. Moderator, Iki Sembiring menyinggung sejumlah dinamika yang kerap muncul dalam pengalaman orang ketika berhadapan dengan Medan, mulai dari culture shock yang dirasakan pendatang hingga stigma negatif yang masih melekat terhadap kota tersebut.
Di tengah berbagai persepsi itu, Medan dinilai memiliki kekayaan sejarah, budaya, serta dinamika sosial yang tidak terlepas dari identitasnya. Kekayaan tersebut sekaligus menjadi potensi yang dapat dikembangkan apabila cerita tentang kota tidak berhenti pada masa lalu, tetapi terus dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Yulianto Qin membawa pembahasan tersebut melalui perspektif visual. Baginya, salah satu cara untuk kembali melihat Medan adalah dengan memperhatikan apa yang ada di sekeliling kota. Bersama Urban Sketchers Medan, ia melihat bangunan-bangunan lama dan keberagaman tradisi sebagai bagian dari cerita visual yang menunjukkan karakter Medan.
Menurutnya, cerita semacam itu tidak cukup hanya dibiarkan menjadi bagian dari masa lalu. Ketika identitas seperti “Paris van Sumatra” mulai semakin jarang dikenal generasi muda, dokumentasi menjadi penting agar berbagai cerita yang membentuk kota tetap dapat dikenali.
Namun, mengenal kota tidak berhenti pada apa yang tampak secara kasatmata. Ada sejarah yang menjelaskan mengapa berbagai hal tersebut menjadi bagian dari Medan. Rizky Nasution melihat kedekatan generasi muda dengan sejarah kota perlu kembali dibangun.
Langkahnya tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Mengenal dan memahami cerita yang membentuk Kota Medan dapat menjadi awal dari upaya pelestarian. Dengan mengetahui asal-usul dan perjalanan kotanya, generasi muda memiliki kesempatan untuk tidak sekadar tinggal di Medan, tetapi juga memahami tempat yang mereka tinggali.
Sementara itu, Ghandy November melihat media digital sebagai ruang lain untuk menjaga cerita tentang Medan tetap hidup. Melalui konten yang dibuatnya, ia mengangkat berbagai sisi kota, mulai dari bangunan cagar budaya, kuliner legendaris, hingga karakter masyarakatnya.
Bagi Ghandy, tantangannya bukan hanya menemukan cerita tentang Medan, tetapi memastikan cerita tersebut tetap dikenal dan mudah diakses masyarakat. Media digital menjadi salah satu cara untuk membawa cerita lokal lebih dekat dengan generasi yang lebih luas melalui medium yang akrab dengan keseharian mereka.
Perspektif tersebut mendapat apresiasi dari Jim Siahaan. Budayawan dan sejarawan senior Kota Medan itu menilai pembahasan mengenai sejarah, budaya, dan cerita kota penting untuk terus mendapat ruang, terutama ketika anak muda ikut terlibat untuk mengenal lingkungan dan sejarah kotanya.
Upaya menjaga ingatan tentang Medan juga tidak berhenti pada ruang diskusi. Edy Saputra dari Beranda Warisan Sumatera (BWS) turut menyatakan dukungannya terhadap semangat mempertahankan cerita dan sejarah kota agar tetap diketahui dan dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya.
Merawat cerita kota pada akhirnya bukan hanya persoalan mengenang apa yang telah lewat. Ada proses untuk kembali mengenali, memahami, mencatat, lalu menceritakan Medan dengan cara yang relevan bagi masyarakat hari ini.
Melalui Better City Talk, Clapham Collective bersama Medan Cultural Change membuka ruang untuk melihat kembali Kota Medan dari berbagai perspektif sekaligus mengajak masyarakat memberi perhatian lebih terhadap cerita yang membentuk tempat mereka tinggal. (AS)