Medan | Neraca — Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Neraca Politeknik Negeri Medan menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) Neraca 2026 bertema “Berani Menggali, Berintegritas Memberitakan” di Aula, Lantai lima, Gedung Z, Politeknik Negeri Medan, pada Jumat, 6 November 2026, pukul 10.00–15.30 WIB. Kegiatan yang diikuti oleh calon anggota baru LPM Neraca, delegasi dari luar kampus, serta peserta lainnya, menghadirkan dua narasumber untuk membekali peserta dengan keterampilan verifikasi dan pemahaman etika jurnalistik.
Rangkaian acara diawali dengan registrasi peserta sejak pukul 10.00 WIB, dilanjutkan pembukaan oleh pembawa acara, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Polmed, serta pembacaan doa. Setelah kata sambutan dari Ketua Panitia dan Pemimpin Umum LPM Neraca, acara berlanjut ke pembacaan profil narasumber pertama.
Narasumber pertama, Jonris Gusdertuah Purba yang juga menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi RMOLSUMUT.ID memaparkan materinya. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa tantangan utama jurnalis muda saat ini adalah misinformasi, disinformasi, dan hoaks. Menurutnya, jurnalis membutuhkan dua pilar, yaitu keberanian intelektual dan keteguhan etika.
“Berani bertanya, termasuk kepada pihak yang berkuasa atau memiliki kepentingan, dan tidak menerima klaim sebagai fakta sebelum diuji dengan bukti,” demikian salah satu poin yang disampaikan Jonris dalam materinya.
Ia juga memperkenalkan lima langkah verifikasi sebelum berita diterbitkan, yakni menahan diri untuk tidak langsung membagikan informasi yang memancing emosi, menelusuri sumber asli, membandingkan dengan dokumen dan sumber independen, mengonfirmasi kepada pihak terkait, serta memutuskan untuk menerbitkan hanya jika informasi telah terverifikasi.
Sesi pertama ditutup dengan diskusi dan tanya jawab, kemudian penyerahan cendera mata dan sesi foto bersama. Acara dilanjutkan dengan pembacaan profil narasumber kedua, pemaparan materi, serta sesi tanya jawab bersama narasumber kedua, yaitu Cristison Sondang Pane.
Beliau membawakan materi mengenai independensi dan integritas jurnalistik, mulai dari dasar hukum Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik, tiga pilar independensi redaksi, hingga studi kasus penerimaan gratifikasi dan intervensi pemilik media terhadap ruang redaksi.
Ketua Panitia PJTD Neraca 2026, Shofy Aulia Simanungkalit, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan program kerja periode sebelumnya dan diselenggarakan tepat setelah LPM Neraca membuka open recruitment.
Menurutnya, tema “Berani Menggali, Berintegritas Memberitakan” dipilih karena kerja jurnalistik tidak berhenti pada mencari dan menyampaikan informasi. “Menjadi seorang jurnalis bukanlah hanya mendapatkan informasi dan lalu memberitakannya. Tetapi bagaimana kita menerima dan mengolah berita tersebut agar dapat disampaikan ke masyarakat,” jelasnya.
Ia menyebut peserta sangat antusias mengikuti kegiatan. “Pelatihan ini bersifat interaktif, mereka juga memiliki banyak pertanyaan ke narasumber-narasumber,” ujarnya.
Shofy berharap peserta memperoleh ilmu dan pengalaman yang bermanfaat dari kedua narasumber, sekaligus memperluas relasi, terutama dengan adanya delegasi dari luar. Adapun tantangan terbesar panitia selama persiapan hingga pelaksanaan adalah cuaca hujan yang membuat acara sedikit terkendala saat dimulai.
Sebagai bahan evaluasi, ia menekankan pentingnya manajemen waktu. “Evaluasi untuk panitia pelaksana PJTD kali ini adalah untuk lebih menghargai waktu. Semoga dari kegiatan ini kami bisa lebih mempererat hubungan sehingga event berikutnya bisa menjadi lebih baik lagi,” pungkasnya.
Salah satu peserta, Adila Prasiska, mengaku cara pandangnya terhadap dunia jurnalistik berubah setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
“Awalnya saya berpikir jurnalistik hanya sebatas mencari dan menyampaikan berita. Namun, setelah mengikuti pelatihan ini, saya jadi tahu bahwa ada banyak proses, tanggung jawab, dan tantangan yang harus dihadapi seorang jurnalis,” katanya.
Materi yang paling berkesan baginya adalah lima langkah verifikasi berita. Ia juga baru mengetahui bahwa jurnalis memiliki kode etik yang harus dipatuhi serta perbedaan antara jurnalistik resmi dan yang belum resmi, terutama dalam proses pelaporan dan penyelesaian masalah apabila terjadi kesalahan pemberitaan.
“Informasi yang benar saja belum cukup. Penyampaiannya juga harus menarik dan mudah dipahami agar informasi tersebut benar-benar sampai kepada pembaca, apalagi di era modern sekarang di mana orang-orang hanya melihat sekilas untuk menentukan apakah berita tersebut menarik atau tidak untuk dibaca,” ujarnya.
Terkait tantangan yang akan dihadapi sebagai calon anggota LPM Neraca, Adila menilai hal terbesar adalah mendapatkan informasi yang akurat dan dapat dipercaya. “Tidak semua narasumber mudah ditemui atau bersedia memberikan informasi, sementara kita juga tidak bisa sembarangan menyampaikan informasi tanpa melakukan verifikasi. Jadi, dibutuhkan kesabaran dan ketelitian,” tuturnya.
Peserta lain, Muhammad Abrar Fadhel, menilai suasana kegiatan menyenangkan karena mempererat kedekatan antar peserta. Ia juga menyoroti sesi tanya jawab yang diramaikan hadiah serta kunjungan peserta ke kantor Antara.
Bagi Abrar yang tertarik pada dunia teknologi, materi independensi dan integritas jurnalistik menjadi yang paling berkesan karena di dalamnya dibahas cara jurnalis menghadapi kecerdasan artifisial (AI). “Saya sangat tertarik pada dunia teknologi, tentunya materi independensi dan integritas jurnalistik, di mana pada materi itu terdapat beberapa cara kita sebagai jurnalis untuk tidak takut kepada AI,” katanya.
Berbeda dengan Adila, Abrar mengaku belum mengalami perubahan cara pandang terhadap dunia jurnalistik. Namun, ia justru semakin menyadari tingginya risiko yang menyertai profesi jurnalis. Tantangan yang ia sadari antara lain narasumber yang enggan diwawancarai, dominasi berita hoaks yang lebih menarik perhatian pembaca, serta penyalahgunaan teknologi untuk menyebarkan berita palsu.
Adapun terkait kontribusinya nanti, Adila berharap dapat terlibat dalam menghasilkan karya jurnalistik LPM Neraca. Sementara Abrar ingin memanfaatkan teknologi secara benar untuk menekan penyebaran berita palsu dan membuat program yang menarik bagi generasi muda. Ia juga berharap kerja sama antaranggota LPM Neraca ke depan semakin baik.
Ketika acara resmi ditutup sekitar pukul 15.30 WIB, peserta tak hanya membawa pulang catatan materi, tetapi juga bekal untuk bersikap lebih kritis terhadap setiap informasi yang mereka temui. Bagi LPM Neraca, PJTD bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang kaderisasi untuk menyiapkan jurnalis kampus yang berani bertanya, tekun memverifikasi, dan tetap berpegang pada etika.
Sebagaimana pesan yang disampaikan pemateri dalam materinya, keberanian membuat seorang jurnalis berani bertanya, sedangkan integritas yang membuat publik percaya. Kini, tugas berikutnya menanti, membawa bekal tersebut dari ruang pelatihan ke lapangan. (AS)