Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
PORTAL BERITA
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
LPM Neraca
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
Beranda Umum

Tren AI Gaya Ghibli, Kreatif atau Langgar Hak Cipta?

lpmneraca oleh lpmneraca
April 7, 2025
dalam Umum
0 0
0
226
PENONTON
Share on FacebookShare on Twitter

Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh tren foto bergaya Ghibli yang dihasilkan melalui teknologi AI. Dalam tren ini, foto biasa dapat diubah menjadi gambar dengan suasana khas film-film karya Hayao Miyazaki, seperti My Neighbor Totoro atau Spirited Away. Cukup dengan bermodalkan ChatGPT atau platform berbasis AI lainnya, gambar ala Jepang dengan nuansa nostalgik tersebut bisa tercipta dengan mudah.

Namun, tren ini memicu pro dan kontra. Banyak warganet menilai bahwa penggunaan AI untuk menciptakan gambar bergaya Ghibli merupakan bentuk pelanggaran hak cipta, karena dianggap meniru gaya visual milik Studio Ghibli tanpa izin.

Di Amerika Serikat, lebih dari 400 artis ternama Hollywood, termasuk Ben Stiller dan Paul McCartney, diketahui telah melaporkan perusahaan teknologi seperti OpenAI dan Google atas dugaan penggunaan karya para seniman tanpa izin dalam pelatihan AI.

Seorang pengguna Instagram menyampaikan kritik keras terhadap tren ini melalui unggahannya:

“Penggunaan AI dalam mengubah foto ke nuansa Ghibli adalah pencurian terhadap kreativitas jika tidak meminta izin dahulu kepada pencetusnya apalagi hal ini disebarluaskan dalam jangkauan yang sangat luas.”

Beberapa pengguna media sosial juga menolak menggunakan fitur AI yang meniru gaya Ghibli karena dianggap tidak menghargai hak cipta.

Sementara itu, menurut hukum hak cipta di Jepang, penggunaan karya berhak cipta untuk pelatihan AI diperbolehkan demi pengembangan teknologi. Namun, regulasi tersebut belum secara jelas mengatur batasan antara kepentingan pribadi dan komersial. Hingga kini, pihak pengembang AI belum memberikan tanggapan signifikan terhadap kontroversi ini.

Di sisi lain, ada pula pendapat yang menyambut positif tren ini. Beberapa pengguna menganggap fitur AI tersebut menarik karena mampu menghadirkan suasana damai dan penuh nostalgia masa kecil.

”Gambar yang dihasilkan dengan teknologi AI ini terkesan canggih dan penuh nostalgia, seakan ini  adalah adegan kenangan lama,” ujar seorang pengguna platform X.

Meningkatnya popularitas tren ini kembali menyoroti pandangan Hayao Miyazaki terhadap AI. Sejak tahun 2016, Miyazaki sudah mengkritisi peran AI dalam seni. Dalam sebuah pameran karya AI, ia melihat animasi yang menampilkan potongan tubuh menggeliat sambil menyeret kepalanya. Alih-alih terkesan, Miyazaki mengaku sangat jijik melihatnya.

“Setiap pagi, dalam beberapa hari terakhir, saya melihat teman saya yang memiliki disabilitas. Sangat sulit baginya untuk sekadar melakukan tos, lengannya yang berotot kaku tidak dapat menjangkau tangan saya. Sekarang, ketika memikirkannya, saya tidak bisa menonton hal-hal ini dan menganggapnya menarik. Siapapun yang menciptakan hal-hal ini tidak tahu apa itu rasa sakit,” katanya kepada AP News.

“Saya tidak akan pernah ingin memasukkan teknologi ini (AI) ke dalam karya saya. Sama sekali tidak. Saya benar-benar merasa bahwa ini merupakan penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri,” tegasnya.

Meski demikian, hingga kini Studio Ghibli belum mengajukan gugatan hukum terhadap tren AI bergaya Ghibli ini. Di tengah polemik, sempat beredar surat pernyataan di media sosial yang mengklaim bahwa Studio Ghibli telah menggugat kasus tersebut. Namun, laporan dari media IT Jepang mengungkap bahwa surat itu palsu. Pihak Studio Ghibli telah mengonfirmasi bahwa mereka tidak pernah menerbitkan pernyataan resmi terkait masalah ini.

Teknologi AI memang sangat canggih dan mampu membantu pengguna mengekspresikan imajinasi visual dengan cara yang memukau. Namun, di sisi lain, AI juga menimbulkan kekhawatiran karena dapat menyaingi karya berbasis kekayaan intelektual. Bahkan, para pencipta karya kini tidak hanya bersaing dengan sesama seniman, tetapi juga dengan versi modifikasi dari karya mereka sendiri yang dihasilkan oleh AI.

Dengan gambaran kasus ini, pertanyaan besarnya pun muncul:

Apakah AI akan menjadi sahabat manusia yang mendukung kreativitas, atau justru menggeser peran dan pekerjaan mereka di masa depan? (IWM)

Referensi:

https://www.bbc.com/indonesia/articles/cx28n2d7nnko

https://kumparan.com/kumparantech/viral-foto-ghibli-dari-chatgpt-kritik-hayao-miyazaki-soal-gambar-ai-muncul-lagi-24leaDr597E

https://www.jalurinfosulbar.id/hiburan/97914893494/pemilik-studio-ghibli-merasa-terhina-dengan-tren-ai-di-chatgpt

Tag: AIghiblihak ciptajepangtren

Terkait Pos-pos

Umum

Mandala dan Sepatu Kekecilan

oleh lpmneraca
Mei 12, 2026
0

Kabar duka datang dari Mandala Rizky Syahputra, siswa kelas XI SMKN 4 Samarinda, Kalimantan Timur, yang meninggal dunia setelah sempat...

Baca lebih lanjut

Forum Pers Nusantara 2026 Dorong Penguatan Pers Mahasiswa di Tengah Dinamika Kebebasan Pers

April 28, 2026

KATALOGI Dorong Peran Generasi Muda dalam Kampanye Iklim Melalui Workshop Konten dan Jurnalistik Lingkungan

April 22, 2026

Pengurus Baru Dilantik, LPM Teropong UMSU Usung Semangat Evolusi Literasi

April 12, 2026

Konflik Global Picu Kenaikan BBM dan Dorong Wacana WFH

Maret 30, 2026

Pers Mahasiswa Pijar USU Sukses Gelar Serah Terima Jabatan Kepengurusan Periode Baru

Maret 14, 2026

Popular Posts

Umum

Mandala dan Sepatu Kekecilan

oleh lpmneraca
Mei 12, 2026
0

Kabar duka datang dari Mandala Rizky Syahputra, siswa kelas XI SMKN 4 Samarinda, Kalimantan Timur, yang meninggal dunia setelah sempat...

Baca lebih lanjut

Mandala dan Sepatu Kekecilan

Dinamika Pemilihan Ketua HMPS Banking: Antara Tradisi Kertas, Inovasi Digital, dan Kemenangan Telak

Na Willa: Cara Sederhana Film Ini Mengajak Kita Kembali Jadi Anak-Anak

Menata Arah Baru, HMPS Telekomunikasi Polmed Resmikan Kepengurusan 2026/2027

HMPS MICE Polmed Resmi Dilantik, Siap Jalankan Program Inovatif Periode 2026–2027

Paskah Elektro-KI Polmed 2026 Berlangsung Khidmat dan Pererat Kebersamaan Mahasiswa

Muat Lebih Banyak


Popular Posts

Kekecewaan Cinta dalam Lagu ‘I Don’t Love You’ dari My Chemical Romance

oleh lpmneraca
Maret 15, 2024
0

Birds of a Feather Karya Billie Eilish Ungkapkan Cinta yang Obsesif dan Posesif

oleh lpmneraca
Juli 17, 2024
0

Drunk Text by Henry Moodie: Mengungkap Perasaan Cinta Dalam Diam dan Ketakutan Friendzone

oleh lpmneraca
Februari 20, 2024
0

LPM Neraca

© 2024 LPM Neraca Polmed

Contacts

Follow Us

Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami

© 2024 LPM Neraca Polmed

Selamat Datang Kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Lupa Kata Sandi?

Buat Akun Baru!

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Semua bidang diisi. Masuk

Dapatkan kembali kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Masuk

Tambahkan Daftar Putar Baru