Penulis: Eka Syafitri Zebua
Di tengah maraknya film dengan konflik besar dan alur cerita kompleks, Na Willa hadir dengan pendekatan sederhana, namun diam-diam meninggalkan kesan mendalam. Film ini mengisahkan seorang anak perempuan bernama Willa yang memandang dunia kecilnya di sebuah gang di Surabaya sebagai tempat paling sempurna.
Melalui sudut pandang anak-anak, film ini tidak berupaya tampil “besar”. Justru, kekuatannya terletak pada kejujuran yang dihadirkannya. Penonton diajak menyaksikan bagaimana hal-hal sederhana seperti suara radio, kios langganan, hingga bermain bersama teman dapat menjelma menjadi pengalaman yang penuh makna dan terasa seperti petualangan kecil yang berharga.
Cerita Sederhana, Rasa yang Dalam
Na Willa bukan film yang mengandalkan plot dramatis. Sebaliknya, kekuatannya terletak pada penggambaran keseharian yang terasa dekat dengan penonton. Willa ditampilkan sebagai anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi dan imajinasi yang luas, menjalani hari-harinya dengan dipenuhi keajaiban-keajaiban kecil.
Sejumlah ulasan menilai film ini sebagai potret kehidupan keluarga yang hangat tanpa kesan menggurui. Nilai-nilai seperti kasih sayang, kebersamaan, serta pola asuh orang tua disampaikan secara halus melalui interaksi sehari-hari, sehingga terasa alami dan mudah dipahami.
Nostalgia yang Tidak Dipaksakan
Salah satu kekuatan utama Na Willa terletak pada nuansa nostalgia yang dihadirkannya. Latar Surabaya tahun 1960-an tidak sekadar menjadi elemen visual, melainkan terasa hidup melalui detail-detail kecil yang konsisten dan autentik.
Menariknya, film ini menyampaikan nostalgia dengan cara yang tidak berlebihan dan tidak memaksakan emosi. Alih-alih sekadar mengajak penonton “mengingat masa lalu”, Na Willa justru berhasil menghadirkan kembali pengalaman menjadi anak-anak: polos, jujur, dan dipenuhi rasa ingin tahu.
Kekuatan di Perspektif Anak
Banyak film keluarga berupaya menyampaikan pesan moral secara langsung. Namun, Na Willa memilih pendekatan yang berbeda. Film ini tidak memberikan jawaban secara gamblang, melainkan mengajak penonton melihat dunia dari perspektif anak.
Di sinilah letak kekuatannya. Perspektif Willa membuat hal-hal sederhana terasa besar, sementara hal-hal besar justru tampak sederhana. Bagi penonton dewasa, pengalaman ini menjadi refleksi tentang cara memandang dunia sebelum dibentuk oleh realitas yang semakin kompleks.
Na Willa adalah film yang tidak berisik, tetapi membekas. Ia tidak menawarkan konflik besar, namun mampu menyentuh melalui detail-detail kecil yang jujur dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Referensi:
https://www.instagram.com/p/DWETMp2j1Td/
https://newadityaap.wordpress.com/2026/03/26/review-film-na-willa/
https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20260319003436-220-1339473/review-film-na-willa