Medan | Neraca – Riuh rendah suara mahasiswa memecah keheningan koridor kampus saat hasil perhitungan suara pemilihan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Banking diumumkan. Di tengah tantangan teknis yang tidak terduga, semangat demokrasi mahasiswa Program Studi Banking tetap berkobar, membuktikan bahwa pergantian tongkat estafet kepemimpinan adalah agenda yang paling dinanti.
Kendala Listrik dan Adaptasi Cepat
Pelaksanaan pemungutan suara kali ini tidak berjalan tanpa hambatan. Jadwal yang sedianya dimulai pukul 15.00 WIB harus tertunda sekitar 45 menit. Faktor utama penundaan ini adalah pemadaman listrik di area kampus yang berdampak pada perubahan skema perkuliahan secara mendadak dari luring (tatap muka) menjadi daring (online).
Kondisi ini memaksa panitia untuk berpikir taktis. Yoshua Fernando Tagalung, selaku Ketua Umum HMPS Banking sebelumnya, mengungkapkan bahwa pihaknya harus tetap menjalankan aturan namun tetap fleksibel terhadap situasi. “Kami tetap mengikuti aturan pemilihan yang ada sejak lama, namun untuk semester 6 yang memang sudah tidak ada jadwal di kampus, serta mahasiswa yang terkendala daring, kami menyediakan solusi melalui Google Form,” jelasnya.
Hasil Akhir: Kemenangan yang Meyakinkan
Meski sebagian mahasiswa harus memberikan suara dari rumah, antusiasme tidak surut. Berdasarkan data akhir perhitungan, Pasangan calon (Paslon) terpilih berhasil mengantongi dukungan masif dengan total 228 suara dari jalur luring. Angka ini semakin diperkuat dengan tambahan 34 suara yang masuk melalui jalur digital atau Google Form.
Namun, layaknya pesta demokrasi pada umumnya, dinamika di kotak suara juga menunjukkan sisi lain. Tercatat ada 34 kotak suara yang kosong serta 11 suara dinyatakan tidak sah akibat kondisi surat suara yang cacat atau robek. Meski demikian, selisih angka yang cukup jauh memastikan kemenangan Paslon terpilih disambut dengan riuh tepuk tangan dari para pendukung yang hadir di lokasi.
Pesan untuk Masa Depan
Bagi Yoshua, tingginya partisipasi mahasiswa baik secara fisik maupun digital adalah bukti bahwa mahasiswa peduli terhadap masa depan organisasinya. Ia menegaskan bahwa HMPS ini bukan sekadar organisasi struktural, melainkan wadah krusial untuk pengembangan minat, bakat, dan prestasi akademik.
“Mahasiswa harus menggunakan hak suaranya agar mereka tahu siapa yang akan memimpin wadah mereka sendiri. Partisipasi ini sangat menentukan arah organisasi ke depan,” tambah Yoshua dengan tegas.
Sebagai bentuk transparansi kepada seluruh anggota prodi, panitia memastikan bahwa seluruh hasil perhitungan ini akan diunggah secara resmi melalui akun Instagram HMPS Banking. Hal ini dilakukan agar mahasiswa yang tidak bisa hadir karena kendala teknis listrik tetap dapat memantau jalannya demokrasi dengan adil dan terbuka.
Dengan berakhirnya penghitungan suara ini, HMPS Banking siap memasuki babak baru di bawah kepemimpinan yang telah dipilih secara demokratis oleh mahasiswanya sendiri. (PEM)