Medan | Neraca – Debat calon ketua dan wakil ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Teknik Konversi Energi menjadi ajang bagi tiga pasangan calon untuk menyampaikan gagasan serta program kerja mereka di hadapan mahasiswa pada Senin, 18 Mei 2026 di Ruang Rapat Jurusan Teknik Mesin, Gedung A, Lantai 2. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pemilihan ketua dan wakil ketua HMPS periode 2026/2027 yang bertujuan memperkenalkan visi, misi, dan arah kepemimpinan masing-masing kandidat kepada mahasiswa. Acara ini turut dihadiri oleh para Pasangan Calon (Paslon), anggota HMPS dan mahasiswa Teknik Konversi Energi, Dewan Perwakilan Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa, dan LPM Neraca.
Acara diawali dengan pembukaan oleh MC, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Politeknik Negeri Medan, dan Mars Mahasiswa. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum HMPS Teknik Konversi Energi dan Ketua Tim Formatur. Moderator kemudian membuka jalannya debat sekaligus membacakan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh masing-masing pasangan calon selama debat berlangsung.
Debat berlangsung selama hampir tiga jam dengan suasana yang aktif dan interaktif. Acara dipandu melalui beberapa sesi, mulai dari penyampaian visi dan misi, pemaparan program kerja, hingga sesi tanya jawab dan tanggapan antar pasangan calon. Dalam setiap sesi, ketiga paslon berusaha meyakinkan audiens melalui argumentasi, solusi, serta gagasan yang mereka tawarkan untuk perkembangan HMPS ke depannya.
Pasangan calon nomor urut 1 mengusung visi mewujudkan HMPS Teknik Konversi Energi yang maju, aktif, responsif, dan kolaboratif dalam pengembangan sumber daya manusia serta minat dan bakat mahasiswa. Untuk mendukung visi tersebut, paslon 1 menghadirkan sejumlah program kerja unggulan seperti Energy Connect, Energy Solid Core, dan Energy Light Up Village yang berfokus pada pengembangan relasi, penguatan internal organisasi, serta pengabdian masyarakat melalui penerapan ilmu energi dan teknologi tepat guna.
Sementara itu, pasangan calon nomor urut 2 menekankan pembentukan mahasiswa Teknik Konversi Energi yang unggul, adaptif, dan berdampak di bidang energi maupun masyarakat. Beberapa program kerja yang ditawarkan di antaranya Energy Gateway, Liga Energi, Enervisit – Energy Goes to School, Energy Innovation Challenge, serta Energy Sharing & Solution 2026 yang berorientasi pada pengembangan kemampuan akademik, solidaritas mahasiswa, hingga kesiapan menghadapi dunia kerja.
Di sisi lain, pasangan calon nomor urut 3 membawa gagasan pengembangan mahasiswa melalui peningkatan karakter, kepemimpinan, dan kesiapan menghadapi dunia industri. Program kerja yang diusung meliputi Energy Karsa Camp, Pendidikan Dasar Kepemimpinan Organisasi, Energy Connect & Share, serta Energy Talent Arena sebagai wadah pengembangan potensi akademik maupun non-akademik mahasiswa Teknik Konversi Energi.
Selain sesi pemaparan program kerja dan tanggapan antar paslon, debat juga menghadirkan sesi interaktif antara audiens dengan para kandidat. Dalam sesi tersebut, mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan secara langsung terkait program kerja, arah kepemimpinan, hingga solusi yang ditawarkan masing-masing pasangan calon terhadap berbagai persoalan organisasi. Sesi ini berlangsung aktif dan mendapat antusias tinggi dari mahasiswa yang hadir.
Salah satu pertanyaan dari audiens menyoroti bagaimana sikap dan langkah para pasangan calon sebagai wadah aspirasi mahasiswa Teknik Konversi Energi apabila aspirasi mahasiswa tidak mendapat respons dari pihak kampus. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan kondisi fasilitas laboratorium dan bengkel yang dinilai masih memerlukan perhatian lebih. Menanggapi hal tersebut, masing-masing paslon menyampaikan pandangan mereka terkait pentingnya komunikasi, penyampaian aspirasi secara berkelanjutan, serta upaya membangun koordinasi yang baik dengan pihak jurusan maupun kampus agar kebutuhan mahasiswa dapat diperhatikan.
Sesi interaktif tersebut turut memunculkan berbagai tanggapan dan argumentasi dari masing-masing pasangan calon. Suasana debat pun sempat memanas ketika para kandidat mulai menanggapi jawaban serta gagasan paslon lainnya. Beberapa pasangan calon memberikan kritik maupun evaluasi terhadap program yang disampaikan lawan debat, terutama terkait efektivitas program kerja dan peran HMPS sebagai wadah aspirasi mahasiswa. Meski demikian, jalannya debat tetap berlangsung kondusif dan mendapat perhatian penuh dari mahasiswa yang hadir.
Rafael Rivero Sinaga selaku Ketua Tim Formatur pemilihan HMPS Teknik Konversi Energi turut memberikan pandangannya terkait jalannya debat. Ia mengatakan bahwa ketiga pasangan calon memiliki visi dan tujuan yang sama, yakni memajukan mahasiswa serta program studi Teknik Konversi Energi, meskipun masing-masing paslon menawarkan cara dan strategi yang berbeda dalam mencapai tujuan tersebut.
Selain itu, ia menyebut bahwa mahasiswa Teknik Konversi Energi membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki jiwa kepemimpinan, responsif terhadap aspirasi mahasiswa, serta mampu merealisasikan program kerja yang telah dijanjikan. Ia berharap program-program yang disampaikan para kandidat tidak hanya menjadi sekadar janji kampanye, tetapi benar-benar dijalankan ketika nantinya terpilih menjadi pengurus HMPS.
Di akhir wawancara, ia berharap kepengurusan HMPS Teknik Konversi Energi periode selanjutnya dapat menjadi organisasi yang lebih aktif, responsif, dan persuasif dalam menjalankan tugas serta mampu melanjutkan program-program yang dinilai baik maupun menyelesaikan berbagai persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi organisasi. (AS/SAS)