Medan | Neraca – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Mahasiswa Suara Universitas Sumatera Utara menggelar Ultras Fest 6.0 dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-31 pada Rabu, 1 Juli 2026, di Aula Serbaguna Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.30–11.00 WIB ini mengusung tema “Warna dalam Perjalanan, Makna dalam Pertumbuhan”.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Direktorat Kemahasiswaan dan Kealumnian Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. Ir. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si., IPU., pengurus dan alumni Suara USU, perwakilan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), serta Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) dari berbagai kampus di Medan, termasuk LPM Neraca.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan pembacaan doa. Ketua panitia, Abdullah Umar Al Faruk, dalam sambutannya menyampaikan harapan agar momentum ini menjadi penguat solidaritas antaranggota. Sementara itu, Pimpinan Umum Suara USU, Muhasana Nasution, menegaskan bahwa peringatan ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang organisasi.
“Perayaan ini kami dedikasikan kepada seluruh pengurus dari masa ke masa yang telah berkontribusi selama 31 tahun. Suara USU hadir untuk menyampaikan fakta, mengembangkan potensi mahasiswa, serta menjaga nalar kritis generasi muda melalui karya jurnalistik,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Agus Purwoko menyampaikan bahwa jurnalistik merupakan salah satu jalur strategis dalam pengembangan karier dan prestasi. Ia menilai mahasiswa yang aktif menulis berada pada jalur yang tepat karena mampu menyampaikan ide dan gagasan melalui berbagai platform.
“Menulis dan mempublikasikannya di media merupakan cara efektif untuk menyampaikan gagasan. Jurnalistik juga terus berkembang, terutama di era digital, sehingga kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi hal penting bagi mahasiswa,” katanya.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur, penayangan video dokumenter perjalanan organisasi, serta pemutaran video ucapan dari berbagai pihak. Suasana semakin hangat melalui sesi kebersamaan seperti permainan, penampilan kreativitas antardivisi, serta berbagi kesan dan pesan.
Dalam sesi wawancara, Muhasana Nasution mengungkapkan bahwa tantangan terbesar pers mahasiswa saat ini adalah kesulitan memperoleh informasi yang mendalam di tengah derasnya arus informasi yang belum tentu berbasis data. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi hambatan karena mahasiswa harus membagi waktu antara aktivitas organisasi dan akademik.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan Suara USU hingga saat ini didorong oleh rasa tanggung jawab kolektif untuk menyampaikan informasi yang faktual kepada masyarakat. “Yang tidak boleh hilang dari jurnalis mahasiswa adalah pola pikir kritis. Jurnalisme mahasiswa harus mampu membangun daya kritis, bukan sekadar menulis tanpa arah,” ujarnya.
Menurutnya, nilai utama yang terus dijaga adalah keseimbangan informasi, integritas, serta independensi dalam menyampaikan fakta. Ia juga menilai pengalaman di Suara USU memberikan pelajaran penting dalam mengangkat isu-isu yang berdampak bagi masyarakat.
Melalui peringatan ini, Suara USU tidak hanya merayakan perjalanan panjangnya, tetapi juga memperkuat komitmen untuk terus berkembang sebagai ruang pembelajaran dan produksi karya jurnalistik yang kritis, independen, serta berdampak bagi masyarakat luas. (EBN)