Medan | Neraca – Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Politeknik Negeri Medan (Polmed) menggelar Seminar Legislatif (Seleg) bertema “Mahasiswa dan Pemuda sebagai Pilar Demokrasi” pada Jumat (24/4/2026). Kegiatan ini dihadiri mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk UIN dan Polbangtan, serta menghadirkan narasumber anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, Dameria Pangaribuan, S.E., dan Hendra Cipta, S.E., M.M. Seminar dipandu oleh moderator Paulina Purba bersama Al Hilal Akbar Lubis.
Kegiatan diawali dengan penampilan tari tradisional, dilanjutkan dengan pembukaan oleh pembawa acara serta pembacaan doa oleh Dewantara dari DPM. Seluruh peserta kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan dan nasionalisme.
Ketua Umum DPM Polmed, Zulfarna Tamba, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga nilai-nilai demokrasi. Sambutan selanjutnya disampaikan oleh perwakilan BEM, Tengku, yang menekankan bahwa kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan serta mengimplementasikan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Turut memberikan sambutan, perwakilan tamu undangan Leon dari PTKAI serta Ketua Panitia, Rolando Sihite. Keduanya berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran politik mahasiswa secara konstruktif.
Dalam pemaparannya, Dameria Pangaribuan, S.E., menjelaskan bahwa tidak semua keterlibatan dalam dunia politik harus bersifat praktis. Ia menegaskan bahwa perempuan tidak hanya hadir sebagai pelengkap kuota dalam pencalonan legislatif, tetapi juga memiliki peran yang signifikan dalam perjuangan politik. Ia juga mengajak mahasiswa untuk tidak bersikap apatis terhadap politik.
Sementara itu, Hendra Cipta, S.E., M.M., menyoroti pentingnya literasi digital di tengah maraknya hoaks. Ia mengimbau mahasiswa agar bijak dalam menggunakan media sosial serta tidak mudah menarik kesimpulan tanpa dasar yang valid. Menurutnya, akses terhadap informasi kegiatan legislatif kini semakin terbuka sehingga masyarakat dapat melakukan pengawasan secara langsung.
Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Pertanyaan yang diajukan antara lain terkait peran digitalisasi dalam fungsi legislatif serta kecenderungan mahasiswa dalam membentuk asumsi negatif terhadap pemberitaan legislatif.
Sebanyak empat peserta turut mengajukan pertanyaan, termasuk mengenai stigma negatif masyarakat terhadap anggota legislatif serta manfaat demokrasi di tengah berkembangnya berbagai persepsi negatif.
Seluruh pertanyaan dijawab secara komprehensif oleh kedua narasumber. Mereka juga menjelaskan mekanisme pengaduan masyarakat disertai contoh kasus yang sempat viral. Penjelasan tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik serta mengurangi stigma negatif terhadap lembaga legislatif.
Melalui seminar ini, mahasiswa diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang kritis, cerdas, dan berintegritas dalam menjaga keberlangsungan demokrasi di Indonesia. (SSS)