Penulis: Valerie Kheista Namira
Ada buku yang kita baca, dan ada buku yang “membaca” kita. Laut Bercerita karya Leila S. Chudori termasuk dalam kategori yang kedua. Novel ini bukan sekadar fiksi berlatar sejarah, melainkan monumen sastra bagi para aktivis mahasiswa yang lenyap tanpa jejak di penghujung kekuasaan Orde Baru. Dengan kepiawaian bertutur yang kuat, Leila merajut kisah yang menyakitkan, tetapi penting untuk diketahui.
Diterbitkan pada Oktober 2017 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), novel ini merupakan persembahan Leila kepada “mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya” sebuah dedikasi yang menghunjam sebelum pembaca memasuki halaman pertama.
Pembaca diperkenalkan pada Biru Laut, seorang mahasiswa aktivis Universitas Gadjah Mada asal Solo yang bergabung dalam organisasi mahasiswa bernama Winatra. Bersama rekan-rekannya Kinan, Sunu, Daniel, Julius, Alex, dan lainnya. Laut bergerak di bawah tanah: mendiskusikan buku-buku terlarang, mendampingi buruh dan petani, serta menentang rezim otoriter yang mencengkeram Indonesia.
Kisah bermula dari sebuah “Rumah Hantu” di Seyegan, Yogyakarta, yang menjadi markas mereka. Dari titik ini, pembaca diajak menyelami dinamika gerakan mahasiswa di era 1990-an yang sarat idealisme, keberanian, cinta, sekaligus ancaman. Laut jatuh cinta pada Anjani, seorang seniman pemberani. Sementara itu, persahabatannya dengan Kinan, sosok perempuan cerdas dan tegas yang kerap menjadi pengambil keputusan kelompok digambarkan dengan sangat hidup dan meyakinkan.
Narasi Laut diselingi oleh fragmen-fragmen pendek berjudul “Di Sebuah Tempat, di Dalam Gelap” yang ditulis dalam sudut pandang orang pertama. Sejak awal, pembaca telah mengetahui bahwa Laut berada dalam kondisi “tenggelam”, baik secara harfiah maupun kiasan ditembak dan dibuang ke laut dengan pemberat besi di kaki. Ketegangan tidak dibangun dari pertanyaan “apa yang terjadi”, melainkan “bagaimana” dan “mengapa” peristiwa itu berlangsung.
Struktur dua suara dalam novel ini bekerja efektif. Bagian Laut terasa seperti catatan harian seseorang yang hidup di ambang bahaya; setiap momen persahabatan, cinta, dan perjuangan menjadi terasa lebih bernilai karena bayang-bayang akhir yang sudah diketahui. Sementara itu, bagian Asmara menghadirkan perspektif berbeda: duka yang tersisa, pertanyaan yang tak terjawab, serta perjuangan keluarga korban yang tak kunjung memperoleh keadilan.
Leila tidak hanya menulis tentang para korban, tetapi juga tentang pengkhianatan sosok Gusti Suroso, kawan sesama aktivis yang ternyata menjadi mata-mata rezim, dihadirkan sebagai pengingat bahwa dalam kondisi represif, kepercayaan menjadi barang paling mewah sekaligus berbahaya.
Prosa Leila adalah perpaduan yang langka: puitis tanpa kehilangan kejernihan, emosional tanpa terjebak ke melodrama. Detail-detail kecil seperti aroma sambal bawang buatan ibu, derit engsel pintu kayu jati di Seyegan, hingga suara boombox milik “Lelaki Seibo” di tempat tahanan membuat dunia yang dibangunnya terasa bisa diraba dan dirasakan.
Penggambaran penyiksaan patut mendapat perhatian khusus. Leila tidak memaparkan kekerasan secara eksploitatif atau sensasional, melainkan menuliskannya dengan dingin dan jarak yang terukur. Justru itulah yang membuat kisah penyiksaan Laut dan rekan-rekannya terasa lebih mencekam. Ketika Laut menceritakan pengalaman disetrum hingga subuh, balok es, si “Mata Merah” dengan bau kretek yang tajam, pembaca merasakan ketegangan yang menembus batas teks.
Metafora laut yang mengalir sepanjang novel dari nama tokoh utama hingga adegan kematiannya bukan sekadar ornamen sastra. Laut hadir sebagai simbol: misterius, menyimpan rahasia, menerima segala yang dibuang ke dalamnya, tetapi juga terus bergerak dan “berbicara” melalui ombak yang menghantam pantai. Bahwa Biru Laut terus bercerita bahkan dari dasar amudra menegaskan satu hal: kebenaran tidak dapat dikubur selamanya.
Laut Bercerita adalah salah satu novel Indonesia terpenting di abad ke-21. Karya ini melampaui batas sastra sebagai bentuk perlawanan terhadap lupa, doa bagi mereka yang hilang, sekaligus cermin yang memaksa bangsa ini menatap dirinya sendiri.
Novel ini mengajak pembaca tertawa bersama kehangatan persahabatan, lalu perlahan tenggelam dalam kesedihan saat satu per satu tokoh menghilang. Ia membangkitkan kemarahan terhadap ketidakadilan dan keheningan yang dibayar dengan nyawa. Pada akhirnya, novel ini meninggalkan pertanyaan yang tak seharusnya berhenti diajukan: ke mana mereka yang dihilangkan itu?
Dengan prosa yang indah, riset yang mendalam, dan empati yang terjaga, Leila S. Chudori memastikan bahwa Biru Laut dan semua yang diwakilinya tidak akan tenggelam dalam sunyi. Laut masih bercerita. Dan kita semua wajib mendengarkan.
Referensi:
https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKDcj9k9BpPgIAoOLLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzEEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1776486653/RO=10/RU=https%3a%2f%2fstupidbookworm.com%2f2024%2f03%2f31%2freview-laut-bercerita-leila-s-chudori%2f/RK=2/RS=pq2HauZq60CuglJCZoIu98uDQDs-
https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrKDcj9k9BpPgIAoeLLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1776486653/RO=10/RU=https%3a%2f%2fbuku.kompas.com%2fread%2f283%2freview-buku-laut-bercerita-buku-fiksi-sejarah-yang-penuh-kegelapan-tahun-1998/RK=2/RS=SWftDBRhu3TKi_UvJez3hoSmXfo-