Medan | Neraca – Hari ketujuh Pekan Olahraga dan Seni Nasional (PORSENI) XV Politeknik se-Indonesia menghadirkan rangkaian pertandingan yang berlangsung di berbagai venue di Kota Medan, Jumat (31/7). Sebanyak tujuh cabang dipertandingkan, yakni sepak bola, kempo, e-sport, stand up comedy, taekwondo, dan voli pantai. Memasuki penghujung kompetisi, setiap pertandingan berlangsung semakin kompetitif karena menjadi penentu langkah kontingen dalam perebutan medali.
Sepanjang hari, suasana pertandingan memperlihatkan warna yang beragam. Di lapangan mini soccer pertandingan berlangsung panas hingga memicu protes terhadap keputusan wasit, di arena kempo para atlet saling bersaing memperebutkan podium dengan tetap menjunjung sportivitas, sementara di Gedung Z Polmed gelak tawa penonton pecah mengiringi penampilan para komika mahasiswa. Di cabang e-sport, duel strategi dan kekompakan tim menjadi penentu kemenangan dalam pertandingan yang berlangsung ketat.
Mini Soccer Berlangsung Panas
Pertandingan mini soccer menjadi salah satu laga yang menyita perhatian pada hari ketujuh. Tempo permainan yang tinggi membuat duel antarpemain berlangsung keras sehingga beberapa kali memancing protes dari kedua kubu.
Atlet Politeknik Negeri Medan, Adrian Christian P. Barimbing, mengaku menikmati jalannya pertandingan meskipun harus menerima keputusan wasit yang menurutnya cukup merugikan tim.
“Perasaan saya pas pertandingan tadi cukup kecewa sama wasit. Soalnya enggak ada peringatan sama sekali, saya langsung dapat kartu merah,” ujarnya.
Menurut Adrian, insiden tersebut bermula dari benturan antarpemain yang kemudian membuat suasana pertandingan semakin panas. Emosi pemain ikut terbawa hingga terjadi keributan kecil di tengah laga.
Meski demikian, ia menegaskan semangat tim belum padam karena masih memiliki kesempatan untuk memperjuangkan posisi terbaik pada pertandingan berikutnya.
Di balik pertandingan yang berlangsung sengit, Adrian menjelaskan bahwa persiapan tim telah dilakukan sejak jauh hari dengan latihan rutin pada malam hari agar tidak mengganggu aktivitas perkuliahan.
“Kami latihan di luar jam kuliah, biasanya malam dari jam tujuh sampai jam sepuluh. Tapi menurut saya latihan itu masih kurang, terutama latihan pagi yang belum bisa kami lakukan karena berbenturan dengan jadwal kuliah.”
Ia berharap evaluasi ke depan lebih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan atlet selama kompetisi agar kondisi fisik tetap terjaga sepanjang pertandingan.
Kempo Hadirkan Persaingan Ketat dan Sportivitas Tinggi
Arena kempo di Gedung Serbaguna Polmed menjadi salah satu venue yang paling ramai sepanjang hari. Atlet dari berbagai politeknik bertanding pada nomor embu maupun randori untuk memperebutkan medali.
Salah satu atlet yang mencuri perhatian adalah Maria Devanti Istinuhan dari Politeknik Negeri Kupang. Ia turun pada dua nomor sekaligus, yakni Embu Solo Tandoku Putri dan randori kelas di bawah 50 kilogram putri. Hasilnya, Maria berhasil membawa pulang medali emas pada nomor embu dan medali perunggu pada nomor randori.
Maria mengaku motivasinya mengikuti PORSENI sudah tumbuh sejak sebelum memasuki dunia perkuliahan.
“Saya memang dari kecil berkarier sebagai atlet. Salah satu alasan saya masuk politeknik juga karena ingin mengikuti PORSENI dan mengembangkan karier saya di cabang kempo.”
Baginya, tantangan terbesar bukan berasal dari pertandingan, melainkan membagi waktu antara latihan dan kewajiban akademik.
“Sebagai atlet sekaligus mahasiswa, tantangan terbesarnya adalah manajemen waktu. Latihan pagi, siang, sore, sementara kuliah juga tetap harus dijalani.”
Di luar persaingan memperebutkan medali, Maria justru paling terkesan dengan hubungan antarkontingen yang menurutnya terasa hangat.
“Saya baru kali ini ikut pertandingan yang benar-benar terasa kekeluargaannya. Antarkontingen saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Suasananya benar-benar sportif.”
Keberhasilan juga diraih atlet Politeknik Negeri Lhokseumawe yang menyabet medali emas pada nomor randori kelas 55 kilogram putra. Kemenangan tersebut disaksikan langsung oleh keluarga atlet yang hadir memberikan dukungan.
Salah seorang penonton, Cut Debby Zulaika Nadra, mengaku sengaja datang dari Lhokseumawe untuk menyemangati anggota keluarganya yang bertanding.
“Alhamdulillah mereka sama-sama dapat medali. Yang satu emas, yang satu perak. Senang sekali bisa melihat langsung perjuangan mereka.”
Ia juga menilai jalannya pertandingan berlangsung tertib dan profesional.
“Panitianya suportif, tim medisnya gerak cepat kalau ada atlet cedera, jadi menurut saya semuanya berjalan dengan baik.”
Sementara itu, atlet Polmed Abra Fadela mengungkapkan bahwa bertanding sebagai tuan rumah menghadirkan tantangan tersendiri.
“Lebih nyaman karena sudah mengenal tempatnya, tapi tetap ada rasa tegang karena membawa nama Polmed dan memperebutkan medali di kandang sendiri.”
Menurutnya, pertandingan berlangsung cukup adil dengan dukungan fasilitas yang memadai sehingga atlet dapat bertanding secara maksimal.
Gelak Tawa Warnai Kompetisi Stand Up Comedy
Berbeda dengan cabang olahraga yang dipenuhi tensi pertandingan, suasana di Gedung Z Polmed justru dipenuhi gelak tawa melalui cabang stand up comedy. Para peserta menghadirkan materi yang dekat dengan kehidupan mahasiswa sehingga mendapat respons hangat dari penonton.
Komika Politeknik Negeri Batam, Rio, mengaku puas dengan penampilannya.
“Alhamdulillah puas karena sesuai ekspektasi.”
Ia menjelaskan bahwa proses menyusun materi membutuhkan waktu yang panjang, mulai dari mengumpulkan keresahan sehari-hari, menyusun premis, hingga menguji materi sebelum dibawakan di atas panggung.
“Inspirasi saya kebanyakan dari kehidupan sehari-hari.”
Penampilannya mendapat apresiasi dari penonton asal Polmed, Moreno Aulil Setyawan, yang menilai Rio berhasil membangun suasana melalui materi yang dekat dengan kehidupan mahasiswa.
“Joke-nya benar-benar nyambung sama budaya mahasiswa dan kehidupan pribadinya. Penyampaian materinya juga sangat bagus.”
Menurut Moreno, hampir seluruh peserta mampu menampilkan materi yang berkualitas.
“Mau juara satu, dua, atau tiga semuanya bagus. Penyusunan materi dan penyampaiannya keren, tanpa harus memakai kata-kata vulgar.”
Dari kubu tuan rumah, Fauzan, mahasiswa Teknologi Rekayasa Multimedia Grafis Polmed, juga tampil membawakan materi di hadapan penonton. Ia mengaku momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga karena merupakan kompetisi terakhirnya sebagai mahasiswa.
“Yang bikin aku grogi itu karena harus menjaga ritme materi sambil dikejar waktu.”
Ia berharap cabang stand up comedy semakin berkembang di lingkungan politeknik melalui pembentukan unit kegiatan mahasiswa agar semakin banyak mahasiswa yang tertarik menekuni bidang tersebut.
E-Sport Tampilkan Duel Strategi dan Kekompakan Tim
Cabang e-sport juga menghadirkan pertandingan yang tidak kalah sengit. Pada nomor e-football beregu, Polmed berhasil menutup rangkaian pertandingan dengan gelar juara setelah melewati tiga laga yang seluruhnya berlangsung ketat.
Atlet Polmed Rifasya Azlan Murazki mengatakan timnya harus bekerja keras sejak pertandingan pertama.
“Skornya tipis semua. Menang 1-0, kemudian imbang 0-0 dan menang lewat penalti, lalu menang lagi 3-2.”
Menurut Rifasya, lawan terberat justru berasal dari dalam tim sendiri.
“Tantangan terbesar kami adalah menyampingkan ego masing-masing. Setelah bisa bermain sebagai satu tim, akhirnya hasilnya juga maksimal.”
Ia menilai kekompakan menjadi faktor yang paling menentukan keberhasilan tim meraih gelar juara.
Sementara itu, pada nomor Mobile Legends, tim Politeknik Negeri Jakarta menunjukkan permainan yang solid sepanjang pertandingan.
Roamer PNJ, Muhammad Ramzi Reza Airlangga, mengatakan bahwa persiapan yang dilakukan tim menjadi modal penting menghadapi kompetisi nasional.
“Kami latihan terus sejak tiba di Medan. Kerja sama tim sudah hampir seratus persen, tinggal komunikasi yang masih harus terus ditingkatkan.”
Ia menilai atmosfer pertandingan di PORSENI XV sangat berbeda karena mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai politeknik di Indonesia.
Persaingan Kian Memanas Jelang Penutupan
Selain mini soccer, kempo, stand up comedy, dan e-sport, pertandingan taekwondo, serta voli pantai juga berlangsung sepanjang hari di venue masing-masing. Ketiga cabang tersebut turut menghadirkan persaingan ketat dalam perebutan medali menjelang berakhirnya PORSENI XV.
Memasuki hari-hari terakhir pelaksanaan, setiap kemenangan menjadi semakin berarti bagi kontingen peserta. Tidak hanya soal perolehan medali, PORSENI XV juga kembali memperlihatkan semangat sportivitas, persahabatan, serta ruang bagi mahasiswa politeknik dari seluruh Indonesia untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka di bidang olahraga maupun seni. (SAS)