Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
PORTAL BERITA
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
LPM Neraca
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
Beranda Artikel

Ajakan untuk Hidup Lebih Sehat Lewat Jajanan Rebus dan Kukus di Kalangan Anak Muda

lpmneraca oleh lpmneraca
November 9, 2025
dalam Artikel
0 0
0

Sumber : https://cdn.rri.co.id/berita/Nabire/o/1753967862000-32a0a448-dcdb-47d5-b137-bb671e683665/ysmh6ax64p6wmf5.jpeg

106
PENONTON
Share on FacebookShare on Twitter

Di berbagai pinggiran jalan kota di Indonesia, kita mulai melihat kembali munculnya tren jajanan rebusan dan kukusan seperti ubi, pisang, singkong, dan kacang rebus. Makanan yang dulu mungkin dianggap kuno kini telah menjadi pilihan camilan kekinian. Misalnya disebutkan bahwa “jajanan kukus seperti ubi dan pisang itu lebih mengenyangkan dan membantu menurunkan berat badan.” Proses pengukusan yang minim pengolahan dan tanpa banyak bahan tambahan membuat camilan ini terasa natural, bersih, dan sederhana.

 

Lalu, mengapa tren ini bisa muncul? Fenomena ini didorong oleh beberapa faktor.

 

Pertama, peningkatan kesadaran terhadap gaya hidup sehat. Sebuah artikel menyebut bahwa camilan rebus-rebusan memiliki nilai gizi baik, rendah lemak, dan cocok untuk semua usia, menjadikannya alternatif yang ideal di tengah serbuan makanan olahan.

 

Kedua, faktor ekonomi dan kepraktisan. Jajanan ini dibuat dengan menggunakan bahan lokal yang mudah didapat, dan cara memasaknya yang sederhana membuatnya makin diminati, baik oleh penjual maupun pembeli.

 

Ketiga, faktor nostalgia dan estetika media sosial. Makanan sederhana tetapi punya “kisah lama” kini viral karena dianggap autentik dan berbeda dari camilan instan, menjadikannya konten yang menarik.

 

Lantas, apakah fenomena ini membawa dampak positif atau negatif? Secara umum lebih banyak sisi positifnya. Dari sisi kesehatan, camilan rebusan seperti ubi mengandung karbohidrat kompleks dan serat tinggi yang baik untuk pencernaan. Dari sisi sosial-ekonomi, tren ini bisa membuka peluang bagi pedagang kaki lima atau UMKM lokal untuk kembali mengangkat pangan tradisional. Namun, tetap ada kekhawatiran jika jajanan ini hanya akan menjadi tren Instagramable yang menjadi sensasi semata, yang kemudian akan memudar seiring waktu.

 

Melihat ke depan, harapannya tren jajanan rebus dan kukus ini tidak hanya berhenti sebagai mode sesaat, tetapi berkembang menjadi bagian dari budaya kuliner lokal yang dihargai baik oleh generasi muda maupun komunitas. Dengan demikian, tren jajanan rebusan ini bisa jadi jembatan antara pangan tradisional, gaya hidup sehat, dan ekonomi kreatif lokal. (THA)

 

 

 

Referensi :

https://rri.co.id/kuliner/1839275/jajanan-tradisional-masih-diburu-di-tengah-tren-kekinian

 

https://rri.co.id/kesehatan/1889107/makanan-rebusan-sumber-nutrisi-sehat-yang-mulai-terlupakan

 

https://rri.co.id/kuliner/1739602/kudapan-rebusan-tradisional-indonesia-sehat-dan-lezat

 

https://www.np-idn.com/post/tren-snack-sehat-indonesia-klaim-rasa-peluang-2025

 

Tag: anak kosanak mudagen zjajanlifestylemahasiswarebusumkm

Terkait Pos-pos

Artikel

Program MBG Tuai Pro dan Kontra, Investasi SDM atau Risiko Pemborosan Anggaran?

oleh lpmneraca
Juni 8, 2026
0

Penulis: Sola Gratia Nababan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah terus menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Program yang bertujuan...

Baca lebih lanjut

Gebrakan Ekonomi: Aturan Baru Devisa Ekspor Resmi Berlaku Demi Amankan Rupiah

Juni 2, 2026

Bukit Lawang, Destinasi Ekowisata Orangutan di Sumatra Utara

Mei 16, 2026

“Laut Bercerita”: Kisah Aktivisme dan Jejak yang Hilang di Penghujung Orde Baru

Mei 14, 2026

Na Willa: Cara Sederhana Film Ini Mengajak Kita Kembali Jadi Anak-Anak

Mei 3, 2026

Makna Lagu “Bila” Raisa: Perjalanan Emosional dari Penolakan hingga Keikhlasan

April 26, 2026

Popular Posts

HMPS

Pengurus Baru HMPS Keuangan dan Perbankan Periode 2025/2026 Resmi Dilantik

oleh lpmneraca
Juni 13, 2026
0

Medan | Neraca - Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Keuangan dan Perbankan resmi melantik jajaran pengurus baru untuk periode kepengurusan...

Baca lebih lanjut

Pengurus Baru HMPS Keuangan dan Perbankan Periode 2025/2026 Resmi Dilantik

Dari Konsistensi Menuju Prestasi: Arya Bayhaqqi Raih Juara 2 Tunggal Putra Gelora Aksi

Satu Shuttlecock, Dua Bersaudara: Perunggu di Lapangan Badminton

Impact Circle 11.0: AIESEC in USU Libatkan 138 Pemuda Olah Limbah Jadi Produk Bernilai

Asah Kemampuan Jurnalis Muda, LPM Dinamika UINSU Gelar Pelatihan dan Kunjungan Media

Evaluasi Kinerja, HMPS Keuangan dan Perbankan Polmed Gelar Sidang Pleno LPJ 2024/2025

Muat Lebih Banyak


Popular Posts

Kekecewaan Cinta dalam Lagu ‘I Don’t Love You’ dari My Chemical Romance

oleh lpmneraca
Maret 15, 2024
0

Birds of a Feather Karya Billie Eilish Ungkapkan Cinta yang Obsesif dan Posesif

oleh lpmneraca
Juli 17, 2024
0

Drunk Text by Henry Moodie: Mengungkap Perasaan Cinta Dalam Diam dan Ketakutan Friendzone

oleh lpmneraca
Februari 20, 2024
0

LPM Neraca

© 2024 LPM Neraca Polmed

Contacts

Follow Us

Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami

© 2024 LPM Neraca Polmed

Selamat Datang Kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Lupa Kata Sandi?

Buat Akun Baru!

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Semua bidang diisi. Masuk

Dapatkan kembali kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Masuk

Tambahkan Daftar Putar Baru