Medan | Neraca – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Medan menggelar program pengabdian masyarakat bertajuk Langkah Tangguh (LANTANG) 2026 dengan mengusung tema “Edukasi Anak Siaga Bencana dan Peduli Lingkungani” di Desa Tiga Pancur, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, pada Senin–Selasa (13–14/7/2026).
melibatkan 120 peserta, terdiri atas 60 panitia, 25 anggota BEM, 28 delegasi Keluarga Mahasiswa (KEMA), dan 7 relawan. Program ini juga menghadirkan delapan pemateri, yakni lima orang dari MER-C Medan dan tiga orang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo.
Program ini berisi edukasi pengungsian dan pencegahan bencana, edukasi dasar keselamatan diri, pembiasaan hidup bersih dan rapi, permainan edukatif, olahraga bersama, serta pendekatan trauma healing bagi anak-anak. Sebagai bentuk keberlanjutan, panitia juga menghadirkan pojok baca berisi buku-buku edukatif di lokasi kegiatan.
Dalam sambutannya, perwakilan BPBD Kabupaten Karo menyampaikan materi mengenai jenis-jenis bencana alam dan non-alam, langkah-langkah pencegahan bencana, serta ancaman bencana yang berpotensi terjadi di wilayah Karo, termasuk gempa bumi dan erupsi gunung berapi. BPBD juga memaparkan sejumlah rambu-rambu kebencanaan yang perlu dipahami masyarakat sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat.
Ketua Panitia LANTANG 2026, Ardian Gustaviano Simanjuntak, menjelaskan latar belakang pemilihan Desa Tiga Pancur sebagai lokasi kegiatan. “Desa Tiga Pancur merupakan wilayah dengan keterbatasan infrastruktur, seperti akses listrik yang belum optimal, jumlah hunian yang masih sedikit, serta masih adanya anak-anak yang belum mendapatkan pendidikan formal, dengan mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani. Wilayah ini juga memiliki potensi risiko bencana alam serta rendahnya kesadaran anak-anak terhadap mitigasi bencana, kebersihan, dan kerapian lingkungan, yang berpotensi menimbulkan dampak psikologis seperti trauma pada anak,” ujarnya.
Ia menambahkan, program ini dirancang secara interaktif dan aplikatif untuk membangun kesiapsiagaan bencana, membiasakan hidup bersih dan rapi, sekaligus memberikan pendekatan trauma healing agar anak-anak merasa lebih aman, nyaman, dan percaya diri.
Salah satu pemateri dari MER-C Indonesia Cabang Medan, Raisa Livlong Barakudin, menyampaikan pandangannya terkait pentingnya pemahaman dasar pertolongan pertama bagi warga.
“Jawabannya sangat-sangat penting karena luka atau trauma seperti patah tulang bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan tidak bisa diprediksi. Penanganannya juga harus cepat, karena jika lambat, dikhawatirkan bisa terjadi komplikasi atau keadaan yang tidak diinginkan,” jelasnya.
Raisa juga membagikan pengalamannya selama bertugas menangani korban bencana, termasuk saat penanganan banjir di Aceh. “Untuk pengalaman selama bertugas, agak sulit untuk diceritakan satu per satu, namun dari kegiatan-kegiatan seperti ini kami mendapat banyak pelajaran, baik secara moral maupun ilmu kesehatan. Ilmu kesehatan terus berkembang, sehingga dengan aktif mengikuti kegiatan seperti ini, kami juga turut mengembangkan ilmu yang kami miliki,” ujarnya
Terkait pojok baca yang ditinggalkan sebagai bentuk keberlanjutan program, Ardian menyampaikan harapannya. “Harapan kami sebagai panitia adalah meningkatkan literasi bagi anak-anak, dan menumbuhkan tanggung jawab sebagai anak sekolah untuk menimba ilmu,” katanya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada masyarakat mengenai pentingnya edukasi kesiapsiagaan bencana sejak dini. “Bencana alam kapan saja bisa terjadi. Dengan mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan mitigasi bencana sejak dini, masyarakat bisa lebih cepat dan tanggap untuk mengurangi serta menghindari risiko yang terjadi saat bencana alam terjadi,” ujarnya.
Selain penyampaian materi kebencanaan, kegiatan LANTANG 2026 juga diisi dengan ice breaking, sesi refleksi “One Sip, One Impression”, games, senam pagi, gotong royong lingkungan sekitar, serta penyusunan pojok baca yang dilaksanakan pada hari kedua sebelum penyerahan plakat dan penutupan acara. (WAF)