Oleh: Shofy Aulia Simanungkalit
Di tengah kemudahan komunikasi melalui media sosial dan aplikasi pesan instan, mengakhiri sebuah hubungan seharusnya dapat dilakukan secara terbuka. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Balasan pesan yang tak kunjung datang, panggilan yang diabaikan, hingga akun media sosial yang tiba-tiba tidak lagi dapat diakses sering kali bukan sekadar gangguan teknis. Bagi sebagian orang, rangkaian kejadian tersebut menjadi tanda bahwa mereka sedang mengalami ghosting, yaitu tindakan mengakhiri hubungan dengan menghilang tanpa memberikan penjelasan.
Apa itu Ghosting?
Dalam kehidupan sehari-hari, ghosting digunakan untuk menggambarkan situasi ketika seseorang tiba-tiba menghentikan seluruh bentuk komunikasi tanpa memberikan penjelasan. Tindakan tersebut dapat berupa tidak lagi membalas pesan, mengabaikan panggilan telepon, hingga memutus seluruh akses komunikasi, termasuk melalui media sosial. Fenomena ini paling sering terjadi pada tahap pendekatan atau dating, tetapi tidak menutup kemungkinan dialami oleh mereka yang telah menjalin hubungan yang lebih dekat, baik sebagai pasangan, sahabat, maupun rekan.
Media sosial dan aplikasi percakapan instan memiliki peran besar dalam maraknya fenomena ghosting. Kemudahan berkomunikasi melalui berbagai platform digital membuat proses pendekatan dan interaksi berlangsung semakin intens. Namun, di sisi lain, kemudahan tersebut juga memungkinkan seseorang mengakhiri komunikasi hanya dengan berhenti membalas pesan, menghapus kontak, atau memblokir akun media sosial orang lain tanpa perlu memberikan alasan secara langsung.
Mengapa Seseorang Memilih Melakukan Ghosting?
Setiap pelaku ghosting memiliki alasan yang berbeda-beda. Namun, secara umum tindakan tersebut lebih sering dipengaruhi oleh ketidakmampuan seseorang dalam menghadapi situasi yang dianggap tidak nyaman dibandingkan keinginan untuk menyakiti orang lain. Salah satu penyebab yang paling umum adalah ketidaksiapan untuk menjalani hubungan yang lebih serius. Ketika hubungan mulai berkembang dan menuntut komitmen, sebagian orang memilih menghilang karena merasa belum siap menghadapi tanggung jawab emosional yang menyertainya.
Selain itu, ghosting juga kerap dilakukan sebagai bentuk penghindaran terhadap konflik. Dikutip dari Psychology Today, psikolog Bonnie Zucker, Ph.D., menjelaskan bahwa ghosting merupakan salah satu bentuk conflict avoidance, yaitu kecenderungan seseorang menghindari percakapan yang tidak nyaman atau konfrontasi emosional. Alih-alih menyampaikan perasaan secara jujur, pelaku memilih memutus komunikasi secara tiba-tiba karena menganggap cara tersebut lebih mudah dibandingkan harus menghadapi reaksi dari pihak lain.
Perubahan perasaan juga menjadi faktor yang cukup sering melatarbelakangi tindakan ghosting. Tidak sedikit orang yang kehilangan ketertarikan terhadap seseorang, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya secara langsung. Akibatnya, mereka memilih menghilang tanpa penjelasan. Dalam beberapa kasus, ghosting juga dilakukan karena pelaku merasa hubungan yang dijalani belum memiliki ikatan atau komitmen yang kuat sehingga menganggap tidak perlu memberikan penjelasan sebelum mengakhiri komunikasi.
Di sisi lain, terdapat situasi tertentu ketika seseorang melakukan ghosting sebagai bentuk perlindungan diri, misalnya saat berada dalam hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship. Meski demikian, pada hubungan yang berjalan secara normal, menghilang tanpa penjelasan tetap bukanlah cara yang ideal untuk mengakhiri sebuah hubungan karena dapat meninggalkan kebingungan, kekecewaan, dan luka emosional bagi orang yang ditinggalkan.
Apa pun alasan di balik tindakan tersebut, ghosting tetap membawa konsekuensi bagi orang yang ditinggalkan. Dampaknya bukan hanya sebatas putusnya komunikasi, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional dan kesehatan mental korban.
Luka yang Ditinggalkan Korban Ghosting
Di balik keputusan seseorang untuk menghilang tanpa penjelasan, terdapat dampak emosional yang tidak bisa dianggap sepele. Korban ghosting sering kali mengalami kebingungan karena tidak mengetahui alasan berakhirnya hubungan. Ketidakjelasan tersebut membuat mereka terus mencari jawaban, mempertanyakan apa yang salah, bahkan tidak jarang menyalahkan diri sendiri. Akibatnya, pengalaman tersebut dapat memicu overthinking, rasa kecewa, hingga menurunnya kepercayaan diri.
Dampak ghosting tidak berhenti pada rasa sedih semata. Penelitian Emotional Experiences (2020) yang dipublikasikan melalui PubMed menunjukkan bahwa seseorang yang mengalami ghosting dapat merasakan ancaman terhadap kebutuhan psikologis dasar, seperti kebutuhan akan rasa memiliki, harga diri, kontrol atas situasi, serta keyakinan bahwa dirinya memiliki arti. Kondisi tersebut membuat korban merasa ditolak tanpa pernah memperoleh kesempatan untuk memahami penyebabnya.
Selain itu, pengalaman ghosting juga dapat memengaruhi kesehatan mental dalam jangka panjang. Korban berisiko mengalami stres, kecemasan, kesulitan mempercayai orang lain, hingga trauma dalam membangun hubungan baru. Penelitian yang dilakukan oleh Langlais dan rekan-rekannya pada 2025 bahkan menemukan bahwa korban ghosting mengalami peningkatan kecemasan, penurunan harga diri, serta perubahan respons fisiologis, seperti meningkatnya tekanan darah dan menurunnya denyut jantung setelah mengalami penolakan secara tiba-tiba. Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak ghosting tidak hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi fisik seseorang.
Oleh karena itu, meskipun ghosting sering dianggap sebagai cara paling mudah untuk mengakhiri suatu hubungan, tindakan tersebut dapat meninggalkan luka yang jauh lebih lama dibandingkan percakapan singkat yang dilakukan secara jujur. Sebab, bagi banyak orang, yang paling menyakitkan bukanlah berakhirnya sebuah hubungan, melainkan tidak pernah mengetahui alasan mengapa hubungan itu harus berakhir.
Pada akhirnya, tidak semua hubungan memang ditakdirkan untuk bertahan. Namun, keberanian untuk mengakhiri hubungan dengan jujur merupakan bentuk penghormatan terhadap perasaan orang lain. Sebab, terkadang satu penjelasan yang sederhana jauh lebih berharga daripada seribu pertanyaan yang dibiarkan tanpa jawaban.
Referensi:
https://www.halodoc.com/artikel/pahami-arti-di-ghosting-tanda-alasan-atasinya