Oleh: Aureyla Christine Napitupulu
Usia remaja merupakan saat dimana kita, selaku manusia, mulai mengalami perubahan dalam hidup dan memulai proses pencarian jati diri. Masa pubertas umumnya berisi hal menyenangkan, seperti jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Namun, tak jarang masa pubertas menjadi masa paling rentan bagi sebagian orang. Pada masa ini terjadi begitu banyak hal, seperti perubahan bentuk tubuh, bertambahnya perhatian terhadap penampilan, pencarian jati diri, dan banyak lagi.
Berbicara mengenai penampilan, remaja cenderung terpengaruh akan standar tubuh yang kurus, langsing, dan tinggi yang telah beredar di masyarakat. Bahkan kemudahan dalam memakai media sosial terkadang memperburuk situasi ini. Media sosial adalah cara terbaik dalam menghibur dan mencari informasi, sekaligus menjadi pengaruh kuat bagi remaja yang dalam proses pencarian diri.
Tren ‘tubuh ideal’ sering kali dijumpai dalam berbagai media sosial. Akan baik jika tubuh ideal yang dimaksud ialah tubuh sehat dengan gizi yang tercukupi. Namun sayangnya, dengan adanya standar tubuh kurus, langsing, dan tinggi yang telah beredar di masyarakat membuat standar tubuh ideal malah sering mengabaikan aspek kesehatan. Tak hanya itu, sering kali orang-orang yang bertubuh gemuk atau berisi malah menerima hinaan atau ejekan karena dianggap tidak sehat atau bahkan di cap jelek.
Hal ini membuat remaja sering kali memiliki hubungan yang tidak sehat dengan makanan, karena adanya ketakutan mengalami kegemukan atau penambahan berat badan. Remaja sering kali berfokus pada hasil ‘tubuh ideal’ menurut masyarakat tanpa memedulikan apakah cara untuk mencapainya merupakan cara yang sehat atau tidak.
Gangguan makan atau eating disorder merupakan kondisi medis yang sering dialami oleh remaja, terutama bagi remaja perempuan. Gangguan makan ini terbagi menjadi tiga, yaitu: Anorexia Nervosa, Bulimia Nervosa, dan Binge Eating.
Anorexia Nervosa atau yang lebih sering disebut Ana (slang di media sosial) merupakan gangguan makan yang ditandai dengan pembatasan jumlah asupan energi atau makanan dalam jumlah yang ekstrim, tak jarang pengidap Anorexia Nervosa memilih untuk kelaparan alias tidak makan sama sekali. Hal ini membuat berat badan pengidap Anorexia Nervosa berada jauh dari berat badan yang sehat untuk usianya.
Tak hanya itu, ketakutan akan kenaikan berat badan bahkan terkadang membuat pengidap Anorexia Nervosa merasakan perasaan bersalah setelah mengonsumsi makanan dalam jumlah normal.
Bulimia Nervosa dan Binge Eating sendiri merupakan kebalikan dari Anorexia Nervosa. Gangguan makan ini ditandai dengan terjadinya ‘episode’ makan dalam jumlah banyak yang dilakukan sekaligus atau tidak terkontrol dan terjadi berulang kali, pada umumnya seminggu sekali. Meski mengonsumsi makanan, faktanya pengidap gangguan makan ini tidak menikmatinya sama sekali. Malahan, mereka merasakan perasan kesal, malu, dan juga bersalah karena telah mengonsumsi makanan.
Hal yang membedakan Bulimia Nervosa dengan Binge Eating adalah perbuatan selanjutnya setelah si pengidap mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak. Pengidap Bulimia Nervosa umumnya akan melakukan tindakan ’kompensasi’ seperti memuntahkan kembali makanan atau penggunaan obat pencahar yang tidak tepat.
Sering kali pengidap eating disorder mengalami yang namanya Body Dysmorphic Disorder (BDD) atau kecemasan berlebihan dan rasa tak puas terhadap penampilan fisiknya yang memperparah situasi yang mereka alami.
Eating disorder juga memengaruhi kehidupan sosial pengidapnya. Remaja yang mengalami gangguan makan akan mengalami masalah kesehatan, emosi yang tidak stabil, dan kemampuan dalam bersosialisasi hingga masalah fokus akibat tubuh tidak memiliki energi atau gizi yang cukup. Dan di tahap paling parah, gangguan makan dapat berujung pada kematian.
Remaja yang mengidap gangguan makan perlu perhatian khusus dan dukungan untuk membangun hubungan yang baik dengan makanan. Pemaksaan kasar tidak dapat menjadi solusi, itu dapat berujung kepada kebencian yang semakin membesar kepada makanan. Segera minta pertolongan kepada tenaga medis dalam mengatasi masalah ini
Referensi:
https://hellosehat.com/parenting/remaja/kesehatan-mental-remaja/gangguan-makan-pada-remaja/
https://jurnalpost.com/read/eating-disorder-jadi-tren-di-kalangan-para-remaja/8616/
https://psychology.binus.ac.id/2014/09/18/fenomena-eating-disorder-pada-kalangan-remaja/
https://dokterairlangga.com/2025/11/15/1109/
https://bulimia.com/eating-disorders/binge-eating-vs-bulimia/