Oleh: Shofy Aulia Simanungkalit
Belakangan ini, satu nama yang cukup sering muncul di media sosial adalah kimpul. Umbi yang sebelumnya mungkin hanya dikenal di dapur atau pasar tradisional tersebut tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan setelah seorang kreator TikTok mengolahnya menjadi berbagai makanan.
Kimpul digunakan sebagai pengganti bahan yang lebih umum, seperti kentang. Dari mashed potato hingga berbagai makanan kekinian, umbi tersebut diolah dengan cara yang tidak biasa. Kreativitas tersebut membuat banyak orang penasaran dan ikut mencari tahu tentang kimpul.
Bahkan, istilah “ganti kimpul” ikut ramai digunakan warganet. Kimpul yang sebelumnya tidak banyak diperhatikan akhirnya menjadi bagian dari percakapan di media sosial.
Ketika Kimpul Masuk FYP
Viralnya kimpul tidak lepas dari cara kreator tersebut memperkenalkannya. Alih-alih mengolah kimpul dengan cara yang biasa, ia menggunakannya sebagai bahan pengganti dalam berbagai makanan yang sudah familiar.
Cara sederhana tersebut justru menjadi daya tarik. Makanan yang biasanya dibuat menggunakan kentang atau bahan lainnya hadir dengan kimpul sebagai bahan utama. Konten-konten tersebut kemudian mengundang rasa penasaran warganet hingga nama kimpul semakin sering muncul di media sosial.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial dapat membuat sesuatu yang sederhana menjadi menarik. Sebuah bahan makanan yang sudah lama ada bisa kembali dikenal ketika diperkenalkan melalui cara yang berbeda.
Mengenal Umbi di Balik Tren
Kimpul sebenarnya bukanlah tanaman baru. Umbi ini termasuk keluarga Araceae atau talas-talasan dengan nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium. Di beberapa daerah, kimpul juga dikenal sebagai talas Belitung, keladi, bentul, bothe, atau linyik.
Kimpul kerap dianggap sama dengan talas karena masih berada dalam satu keluarga. Padahal, keduanya berasal dari genus berbeda. Kimpul berasal dari genus Xanthosoma, sedangkan talas yang umum dikenal berasal dari genus Colocasia.
Kimpul dapat diolah dengan berbagai cara, mulai dari direbus, dikukus, digoreng, hingga dijadikan keripik dan tepung. Teksturnya yang lembut dan pulen membuatnya cukup mudah dipadukan dengan berbagai jenis makanan.
Namun, pengolahannya tetap perlu diperhatikan. Kimpul mengandung kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal atau tidak nyaman jika tidak diolah dengan tepat. Karena itu, kimpul perlu dimasak hingga matang sebelum dikonsumsi.
Dari Tren Menjadi Pangan yang Dikenal Kembali
Di balik ramainya “ganti kimpul”, ada hal lain yang menarik untuk diperhatikan. Viralitas tersebut secara tidak langsung membuat masyarakat kembali mengenal salah satu pangan lokal yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.
Kimpul mengandung karbohidrat, serat, serta sejumlah vitamin dan mineral sehingga berpotensi menjadi salah satu alternatif sumber pangan. Selama ini, pangan lokal sering kali kalah populer dibandingkan bahan makanan yang lebih umum digunakan dalam masakan sehari-hari.
Media sosial kemudian menjadi semacam panggung baru. Kimpul tidak lagi hanya hadir sebagai umbi yang direbus atau digoreng, tetapi dapat diolah menjadi makanan yang mengikuti tren kuliner masa kini.
Meski tren media sosial dapat berganti dengan cepat, setidaknya fenomena ini telah membuat lebih banyak orang mengenal kimpul. Dari sesuatu yang mungkin sebelumnya dianggap biasa, kimpul kini menjadi bahan yang membuat orang penasaran.
Kimpul sebenarnya tidak pernah menjadi makanan baru. Ia hanya sedang mendapatkan kesempatan untuk dikenal kembali.
Referensi:
https://kumparan.com/berita-hari-ini/apa-itu-kimpul-yang-viral-di-medsos-ini-ciri-dan-manfaatnya-27uPt8N1nj3
https://women.okezone.com/read/2026/08/10/298/3235295/lagi-viral-di-media-sosial-apa-itu-kimpul
https://www.dream.co.id/stories/kimpul-umbi-lokal-yang-dulu-terlupakan-kini-ramai-diperbincangkan-260810v.html
https://www.detik.com/jogja/kuliner/d-8603394/kimpul-itu-apa-simak-beda-dengan-talas-dan-resep-olahannya-yang-lezat