Medan | Neraca – Belakangan ini, media sosial kembali diramaikan oleh perdebatan digital antara netizen Asia Tenggara dan netizen Korea Selatan. Perbincangan tersebut mulai mencuat dan mendadak viral sejak awal pekan ini di berbagai platform media sosial, terutama X (sebelumnya Twitter). Perbedaan perspektif dan budaya terhadap isu yang melibatkan komunitas penggemar memicu reaksi berantai dari kedua belah pihak. Perdebatan yang awalnya hanya terjadi di kolom komentar kemudian berkembang menjadi adu argumen lintas negara dan menarik perhatian publik karena menyangkut sensitivitas budaya serta solidaritas antarnegara.
Awal Mula Konflik
Perdebatan ini dipicu oleh perilaku sejumlah fansite (situs penggemar) asal Korea Selatan yang kedapatan membawa kamera profesional atau DSLR saat konser band DAY6 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari lalu. Sebelumnya, penyelenggara konser telah secara tegas melarang penonton membawa peralatan video maupun kamera profesional berukuran besar karena dinilai dapat mengganggu kenyamanan penonton lain.
Menanggapi hal tersebut, penonton lokal menyampaikan protes melalui platform X. Respons itu kemudian memicu komentar dari Knetz (netizen Korea Selatan) yang awalnya membela etika fansite. Namun, perdebatan berkembang menjadi serangan defensif bernada rasis dan merendahkan masyarakat Asia Tenggara.
Adu Argumen Kedua Komunitas
Salah satu unggahan Knetz yang telah diterjemahkan berbunyi, “Jika kalian menyukai penyanyi Korea, setidaknya cobalah menghormati budaya Korea. Atau berhentilah melihat foto-foto fansite di linimasa kalian. Apakah ini ciri khas orang asing yang tidak tahu diri? Itu menjijikkan.”
Unggahan tersebut direspons oleh seorang pengguna asal Malaysia yang menyatakan bahwa penggemar dari luar negeri turut berkontribusi dalam mendorong popularitas K-pop di kawasan Asia Tenggara melalui aktivitas streaming dan pembelian merchandise.
Namun, Knetz yang sama kembali membalas dengan komentar, “Mengapa kamu begitu memuja penyanyi Korea? Dukung saja artis dari negaramu sendiri.” Pernyataan itu kemudian memicu keterlibatan netizen dari berbagai negara Asia Tenggara yang ikut membela Malaysia sekaligus menyoroti kesuksesan grup pop dari negara masing-masing.
#SEAblings: Simbol Solidaritas Digital Asia Tenggara
Netizen dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan negara Asia Tenggara lainnya dengan cepat membentuk aliansi digital yang mereka sebut sebagai SEAblings—gabungan dari Southeast Asia dan siblings (saudara). Istilah ini menjadi simbol solidaritas dan identitas bersama dalam menanggapi serangan bernada rasis tersebut.
Sebagai bentuk respons, sebagian anggota aliansi ini menyerang balik Knetz dengan mengunggah foto-foto yang menampilkan kecantikan alami orang Asia Tenggara tanpa operasi plastik. Meme satir dan tagar #SEAblings pun membuat topik ini menjadi trending di X hingga beberapa waktu.
Dampak Lanjutan dan Aksi Boikot
Meskipun oknum fansite telah mengunggah permintaan maaf, ketegangan antarkomunitas belum sepenuhnya mereda, meski intensitasnya mulai menurun. Sejumlah netizen Indonesia membalas dengan menurunkan peringkat konten di platform Netflix, memberikan ulasan negatif dan rating bintang satu untuk destinasi wisata di Korea Selatan, serta menyatakan niat untuk memboikot konser, drama, dan produk asal negara tersebut.
Tanggapan Akademisi terhadap Konflik
Akademisi Indonesia, Rhenald Kasali, turut menganalisis pertikaian ini. Ia menilai bahwa Korea Selatan kerap mencari pengakuan melalui kolaborasi dengan negara-negara Barat, tetapi cenderung mengabaikan Asia Tenggara.
“Mereka mengejek kita sebagai negara agraris dan meremehkan warna kulit, pendidikan, serta ekonomi kita. Padahal ASEAN merupakan salah satu kekuatan penting dalam ekonomi global. Jika industri K-pop tidak berhati-hati, ia bisa menghadapi dampak dari sikap yang dianggap arogan,” ujarnya.
Konflik lintas negara di media sosial bukanlah hal baru. Perbedaan bahasa, budaya, dan gaya komunikasi kerap menjadi pemicu utama. Ditambah dengan algoritma media sosial yang cenderung menonjolkan konten kontroversial, persoalan kecil dapat terlihat jauh lebih besar dari kenyataannya. Polemik ini menjadi pengingat bahwa media sosial bukan hanya ruang berekspresi, tetapi juga ruang yang menuntut tanggung jawab. Tanpa komunikasi yang jelas dan sikap saling menghormati, perbedaan kecil dapat berkembang menjadi pertikaian besar. (AS).
Referensi: