Medan | Neraca – Tidak semua prestasi lahir dari proses yang panjang. Ada kalanya sebuah pencapaian justru berawal dari pertemuan singkat, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar. Hal itulah yang tergambar dari perjalanan Ananda Daffa Kesuma dan Perdana A. Manurung, dua mahasiswa Program Studi Manajemen Informatika yang berhasil meraih Juara 3 Ganda Putra pada ajang Direktur Cup.
Bagi Daffa, badminton bukanlah hal baru. Ia mulai mengenal olahraga ini sejak duduk di bangku kelas 4 SD melalui orang tuanya. Ketertarikannya kemudian berkembang menjadi keseriusan saat ia bergabung dengan klub badminton ketika berada di kelas 2 SMA. Berbeda dengan Daffa, Perdana mengenal badminton sebagai hobi yang telah ditekuninya sejak usia delapan tahun. Meski tidak pernah bergabung dengan klub atau mengikuti jalur profesional, kecintaannya terhadap olahraga ini membuatnya tetap rutin bermain dan terus mengembangkan kemampuan secara mandiri.
Menariknya, pasangan ganda ini baru dipertemukan dalam waktu yang relatif singkat. Keduanya berkenalan saat mengikuti KI Cup, sebelum akhirnya Daffa mengajak Perdana untuk berpasangan di Direktur Cup. Dengan waktu persiapan yang terbatas, mereka harus membangun chemistry sekaligus menyamakan pola permainan dalam hitungan minggu.
Menjelang turnamen, Daffa meningkatkan intensitas latihannya secara signifikan, terutama dalam dua minggu terakhir sebelum pertandingan. Sementara itu, Perdana menambah frekuensi bermain dari satu hingga dua kali seminggu menjadi empat kali seminggu. Selain berlatih teknik pukulan dan footwork, ia juga menjaga pola makan agar tetap dalam kondisi prima saat hari pertandingan.
Namun, perjalanan mereka tidak selalu berjalan mulus. Faktor cuaca, jarak rumah yang berjauhan, hingga jadwal latihan malam hari menjadi tantangan tersendiri. Di sisi lain, waktu bermain bersama yang terbatas membuat keduanya harus bekerja lebih keras untuk membangun komunikasi dan memahami karakter permainan masing-masing.
Meski begitu, keduanya berhasil menemukan keseimbangan di lapangan. Daffa dikenal kuat dalam permainan belakang dengan kemampuan menyerang dan bertahan yang baik, sedangkan Perdana memiliki keunggulan di area depan net. Kombinasi tersebut membuat mereka saling melengkapi dan mampu menghadapi berbagai lawan sepanjang turnamen.
Dalam pertandingan, mereka juga memegang satu prinsip penting, yaitu tidak saling menyalahkan ketika terjadi kesalahan. Saat miskomunikasi terjadi, keduanya memilih untuk saling mendukung dan menguatkan mental pasangan. Bagi mereka, kekompakan bukan hanya soal strategi, tetapi juga soal memahami kelebihan dan kekurangan satu sama lain.
Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil dengan raihan Juara 3. Meski belum berhasil mencapai posisi tertinggi, pencapaian ini menjadi bukti bahwa kerja keras mereka tidak sia-sia. Keduanya mengakui bahwa tim Arya dan Maliq, yang keluar sebagai juara pertama, merupakan lawan terberat yang mereka hadapi sepanjang turnamen.
Bagi Daffa, salah satu momen paling berkesan adalah kesempatan untuk bertemu banyak orang baru dan bermain bersama para senior yang lebih berpengalaman. Sementara itu, Perdana merasa bangga karena hasil yang diperoleh mampu membuktikan bahwa usaha dan latihan yang telah dilakukan bersama tidak berakhir sia-sia.
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, keduanya tetap berusaha menyeimbangkan antara akademik dan olahraga. Kuliah tetap menjadi prioritas utama, sementara latihan dilakukan pada malam hari. Ketika tugas perkuliahan sedang menumpuk, mereka mencari cara agar keduanya tetap dapat berjalan beriringan tanpa mengorbankan salah satunya.
Ke depan, Daffa akan memfokuskan diri pada ajang Porseni dengan meningkatkan intensitas latihan dan menjaga pola hidup yang lebih disiplin. Sementara Perdana ingin terus memperbaiki kualitas permainannya agar dapat tampil lebih baik pada turnamen-turnamen berikutnya.
Melalui perjalanan mereka, Daffa dan Perdana ingin menyampaikan satu pesan sederhana kepada mahasiswa lainnya. Jangan takut untuk mencoba. Prestasi tidak selalu lahir dari kesempurnaan, melainkan dari keberanian untuk memulai, kemauan untuk belajar, dan ketekunan dalam menjalani proses. Sebab, setiap pengalaman, baik kemenangan maupun kekalahan, akan selalu menjadi langkah berharga menuju pencapaian yang lebih besar. (AS)