Medan | Neraca – Lumira Organizer menggelar kegiatan sosial bertajuk “Love Yourself, Speak Yourself” di Sanggar Anak Sungai Deli (SaSuDe), pada Sabtu, 23 Mei 2026. Kegiatan ini mengangkat tema self-love atau mencintai diri sendiri sebagai bentuk edukasi karakter kepada anak-anak sejak dini.
Tasya Hapsari, selaku Ketua panitia mengatakan bahwa kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keresahan mereka terhadap pentingnya edukasi tentang self-love, bahkan bagi orang dewasa. Menurutnya, masih banyak orang yang belum memahami bagaimana cara menghargai dan mencintai diri sendiri dengan baik. Karena itu, mereka memilih untuk mengenalkan konsep tersebut kepada anak-anak sejak dini agar nantinya dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat secara mental maupun fisik.
Tasya juga menjelaskan bahwa salah satu materi yang diberikan kepada anak-anak ialah tentang menghargai diri sendiri dengan menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Anak-anak juga diajak untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain karena setiap orang memiliki kemampuan dan prosesnya masing-masing. Menurutnya, kurangnya rasa cinta terhadap diri sendiri juga dapat membuat seseorang menjadi people pleaser atau terlalu memaksakan diri demi orang lain. Hal itu dinilai tidak sehat karena seseorang jadi sulit menolak sesuatu meskipun sebenarnya tidak mampu melakukannya.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini memiliki beberapa rangkaian acara yang disusun untuk menyesuaikan karakter anak-anak di Sanggar Anak Sungai Deli. Acara diawali dengan penampilan unjuk bakat dari anak-anak SaSuDe. Tasya mengatakan bahwa pemilihan sesi tersebut dilakukan setelah pihak panitia mengetahui bahwa anak-anak di sana aktif dalam bidang seni seperti bernyanyi, membaca puisi, hingga teater.
“Mereka bahkan punya lagu sendiri, sering ikut festival, tampil di Taman Budaya Medan, dan mendapat apresiasi dari berbagai media,” katanya.
Setelah sesi unjuk bakat, kegiatan dilanjutkan dengan pemberian edukasi mengenai self-love. Anak-anak kemudian mengikuti sesi melukis sebagai bentuk pengaplikasian dari materi yang telah disampaikan. Dalam sesi tersebut, anak-anak diminta menggambar berdasarkan perasaan yang mereka rasakan, baik sedih, senang, bingung, maupun perasaan lainnya.
“Kalau mereka bingung, gambarnya bisa abstrak juga. Jadi tergantung apa yang mereka rasakan,” ujar Tasya.
Selain itu, panitia juga menghadirkan berbagai permainan dan ice breaking agar suasana kegiatan lebih menyenangkan dan interaktif. Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama, pemberian plakat, serta penyerahan donasi kepada Sanggar Anak Sungai Deli.
Tasya menjelaskan bahwa donasi tersebut nantinya akan digunakan untuk membantu pembangunan fasilitas di SaSuDe. Menurutnya, bangunan yang saat ini digunakan masih didominasi material kayu sehingga rentan rusak ketika banjir maupun terkena bencana lainnya. Karena itu, panitia berharap donasi yang diberikan dapat membantu pembangunan fasilitas yang lebih kokoh dan layak digunakan oleh anak-anak.
Pemilihan Sanggar Anak Sungai Deli sebagai lokasi kegiatan juga dilakukan melalui diskusi bersama seluruh anggota panitia. Tasya mengatakan bahwa SaSuDe dipilih karena dinilai memiliki lingkungan belajar yang sejalan dengan tujuan kegiatan mereka.
“Di sini anak-anaknya memang aktif belajar. Ada yang belajar membaca, mengaji, dan juga banyak volunteer yang datang mengajar matematika atau bahasa Indonesia. Jadi kami merasa cocok dan selaras dengan konsep kegiatan yang kami buat,” ujarnya.
Selain mempertimbangkan lingkungan belajar di SaSuDe, panitia juga menyesuaikan sasaran peserta dengan materi kegiatan yang dibawakan. Tasya menjelaskan bahwa jumlah anak di Sanggar Anak Sungai Deli sebenarnya mencapai sekitar 60 orang dengan rentang usia mulai dari PAUD hingga SMA. Namun, untuk kegiatan kali ini peserta dibatasi pada usia 8 hingga 10 tahun agar materi yang diberikan lebih mudah dipahami secara merata oleh seluruh peserta.
Di balik pelaksanaan kegiatan tersebut, Tasya mengaku bahwa tantangan terbesar yang dihadapi panitia adalah mencari sponsor untuk membantu kebutuhan acara. Menurutnya, sejak satu bulan sebelum kegiatan berlangsung, panitia telah berusaha menghubungi berbagai pihak untuk bekerja sama guna menekan pengeluaran kegiatan. Namun, banyak respons yang diterima tidak sesuai harapan. Meski begitu, seluruh panitia tetap saling membantu mencari relasi hingga akhirnya memperoleh dukungan dari salah satu UMKM di Patumbak, yaitu Dapur Anugerah.
Sementara itu, pengampu mata kuliah Event Organizer, Fatma Wardi Lubis, menilai bahwa edukasi tentang self-love sangat penting diberikan kepada anak-anak sejak dini karena berkaitan dengan pembentukan karakter. Menurutnya, pendidikan karakter tidak hanya diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui kegiatan sosial dan interaksi sehari-hari. Anak-anak perlu diajarkan tentang kepedulian, tanggung jawab, persahabatan, dan kerja sama karena hal tersebut dapat membentuk karakter, sikap, kepribadian yang baik dan sehat.
Fatma juga menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Event Organizer yang bertujuan melatih mahasiswa dalam merancang, mengelola, hingga melaksanakan sebuah kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa diminta untuk memunculkan ide, menentukan sasaran kegiatan, hingga mengevaluasi hasil dari kegiatan yang telah dilakukan. Ia menyebut bahwa pada semester ini terdapat 12 kelompok dengan berbagai konsep kegiatan sosial yang berbeda-beda, mulai dari kegiatan di panti difabel, panti jompo, hingga panti asuhan. Menurutnya, seluruh kegiatan tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa kepedulian sosial mahasiswa terhadap masyarakat sekitar.
“Harapannya kegiatan seperti ini tidak hanya berhenti sebagai tugas kuliah saja, tetapi bisa terus dilakukan ke depannya. Mahasiswa harus tahu bahwa masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian dan dukungan,” katanya.
Fatma berharap pengalaman terlibat langsung dalam kegiatan sosial dapat membuka wawasan mahasiswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, termasuk kepada anak-anak maupun kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan. Ia juga berharap mahasiswa nantinya dapat terus membawa nilai kepedulian tersebut ketika sudah memasuki dunia kerja. (ESZ)