Medan | Neraca – Maliq Zahran Abhista, mahasiswa Program Studi Manajemen Bisnis semester 6 Politeknik Negeri Medan (NIM 2305171106), berhasil meraih medali perunggu pada ajang Gelora Aksi yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Kompetisi olahraga dan seni yang terbuka bagi masyarakat Medan berusia 15 hingga 25 tahun ini menjadi panggung bagi Maliq untuk unjuk kemampuan di cabang Ganda Campuran Badminton, berpasangan dengan sosok yang paling ia kenal: adik kandungnya sendiri, Syifa.
Serumah, Sekompak Pasangan Profesional
Meski memiliki waktu persiapan yang relatif singkat, Maliq dan Syifa mampu menunjukkan performa yang kompetitif di lapangan. Sebelumnya, Maliq fokus berlatih bersama kontingen Porseni POLMED, sementara sang adik mengasah kemampuan di klubnya sendiri.
Namun kedekatan sebagai saudara yang tinggal serumah, ditambah pengalaman berpasangan di beberapa kesempatan sebelumnya, menjadi keunggulan tersendiri. Menurut Maliq, kekompakan mereka terbantu karena tinggal serumah dan pernah beberapa kali berpasangan sebelum turnamen.
Mengendalikan Ego, Bukan Sekadar Teknik
Berpasangan dengan saudara kandung menyimpan tantangan yang tidak terlihat dari luar. Tantangan terbesar Maliq bukan soal stamina atau teknik pukulan melainkan mengendalikan ego. Kedekatan emosional yang biasanya menjadi kekuatan justru bisa berubah menjadi gesekan di bawah tekanan pertandingan.
Momen paling kritis tiba saat mereka tertinggal poin. Di titik itulah keduanya harus segera menemukan solusi bersama, menekan rasa tidak percaya diri, dan memfokuskan kembali pikiran pada permainan.
Dukungan yang Tak Pernah Putus
Di balik setiap pertandingan yang dijalani, Maliq mengaku mendapat dukungan besar dari orang tua, keluarga, dan teman-temannya. Baginya, dukungan tersebut menjadi sumber motivasi untuk terus berlatih dan berkembang sebagai atlet.
Selain dukungan dari orang-orang terdekat, Maliq juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi dan disiplin dalam berlatih. Ia percaya bahwa prestasi tidak hanya dibangun melalui kemampuan di lapangan, tetapi juga melalui kerja keras dan semangat untuk terus memperbaiki diri.
Porseni Politeknik Nasional 2026 Jadi Target Berikutnya
Medali perunggu ini bukan titik akhir bagi Maliq. Target berikutnya sudah ia canangkan dengan jelas: berdiri di podium Porseni Politeknik Nasional POLMED 2026. Ambisi itu mendorongnya untuk terus berlatih dan menempa diri.
Namun di luar ambisi pribadi, Maliq menyuarakan sesuatu yang lebih luas. Ia menilai kompetisi eksternal adalah wadah penting untuk mengasah kemampuan yang tidak selalu bisa diperoleh di dalam kelas. Ia pun berharap prestasi nonakademik termasuk olahraga kelak mendapat apresiasi yang setara dengan prestasi akademik di lingkungan kampus.
Kisah Maliq dan Syifa menjadi pengingat sederhana: bahwa prestasi tidak selalu lahir dari persiapan panjang yang sempurna. Prestasi yang diraih Maliq dan Syifa menunjukkan bahwa persiapan singkat bukan penghalang untuk berprestasi selama diimbangi dengan disiplin, komunikasi yang baik, dan semangat untuk terus berkembang. (SAS)