Medan | Neraca – Perkumpulan Katalogi atau Katalisator Ekologi menginisiasi sebuah workshop kampanye iklim yang menyasar generasi muda di Sumatera Utara. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat peran anak muda dalam merespons isu-isu lingkungan yang semakin kompleks, khususnya terkait transisi energi. Tidak hanya sebatas penyampaian materi, workshop ini juga dirancang sebagai ruang belajar yang mendorong peserta untuk aktif, kritis, serta mampu memproduksi konten yang relevan dengan isu lingkungan.
Koordinator kegiatan, Reza Anggi Riziqo, menjelaskan bahwa Katalogi merupakan sebuah inisiatif yang lahir dari keresahan bersama terhadap kondisi lingkungan hidup saat ini. “Katalogi itu singkatan dari Katalisator Ekologi. Jadi ini lembaga yang teman-teman inisiasi dari berbagai latar, utamanya sih sebenarnya kami punya visi yang sama di gerakan lingkungan hidup supaya gerakan lingkungan hidup itu tetap menuju ke arah yang lebih baik, adil, dan lestari,” ujar Reza.
Menurutnya, pada tahap awal pengembangan komunitas, Katalogi memilih untuk fokus pada kalangan anak muda. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan karena generasi muda dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan gerakan lingkungan di masa depan. Ia menekankan bahwa regenerasi menjadi kunci agar isu lingkungan tidak berhenti pada satu generasi saja.
Dalam pelaksanaan workshop ini, Katalogi secara khusus mengangkat tema produksi konten sebagai salah satu strategi kampanye lingkungan. Reza menilai bahwa di era digital saat ini, kemampuan membuat konten menjadi keterampilan yang sangat penting, terutama untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan individu peserta, tetapi juga diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas di lingkungan sekitar mereka. Peserta didorong untuk menjadi penyambung informasi sekaligus agen perubahan di komunitas masing-masing. “Teman-teman itu tidak hanya untuk diri teman-teman, tapi lewat pelatihan kampanye teman-teman juga bisa menyebarluaskan, menginformasikan kepada teman-teman publik yang lain, setidaknya di lingkaran teman-teman sendiri bahwa isu transisi energi merupakan isu yang urgent di Indonesia saat ini,” katanya.
Lebih lanjut, Reza menjelaskan alasan di balik pemilihan isu transisi energi sebagai fokus utama dalam workshop ini. Ia menilai bahwa kesadaran masyarakat, khususnya anak muda, terhadap dampak penggunaan energi berbasis fosil masih tergolong rendah. Di sisi lain, pemahaman mengenai transisi energi juga belum merata. “Jarang banget anak muda yang sekarang ini sadar terhadap dampak-dampak dari penggunaan energi berbahan dasar sumber fosil. Terus juga pengetahuan soal transisi energi itu jarang banget diketahui oleh orang-orang,” jelasnya.
Tidak hanya itu, ia juga menyoroti bahwa label “energi terbarukan” tidak selalu berarti bebas dari persoalan. Menurutnya, masih terdapat berbagai aspek ketidakadilan yang perlu diperhatikan, baik dari sisi tenaga kerja maupun dampak sosial terhadap masyarakat sekitar. “Banyak juga ternyata pembangkit-pembangkit listrik yang dilabeli sebagai pembangkit yang terbarukan rupanya masih menyimpan unsur-unsur ketidakadilan, mulai dari perburuhan di perusahaan itu sendiri maupun dampak buruk bagi masyarakat sekitar,” tambahnya.
Dalam workshop ini, Katalogi menghadirkan sejumlah pemateri dengan latar belakang yang beragam untuk memberikan sudut pandang yang lebih komprehensif. Salah satunya adalah Dewantoro, seorang jurnalis lingkungan yang telah lama berkecimpung dalam peliputan isu-isu agraria dan lingkungan hidup.
Dalam pemaparannya, Dewantoro menekankan bahwa profesi jurnalis tidak selalu identik dengan tekanan dan tantangan, tetapi juga menghadirkan banyak pengalaman inspiratif yang sering kali tidak terlihat oleh publik. Ia menceritakan pengalamannya sejak awal berkarier sebagai jurnalis pada tahun 2011, di mana ia banyak meliput isu pertanian. Dari pengalaman tersebut, ia menyadari bahwa pertanian tidak selalu berkaitan dengan konflik, tetapi juga menyimpan banyak praktik baik yang patut diapresiasi. “Pertanian itu enggak melulu soal konflik lahan, soal agraria, enggak melulu soal itu. Tapi ada praktik-praktik inspiratif yang dilakukan sama petani. Misalnya pertanian selaras alam, atau orang lingkungannya menyebutnya organik,” ungkapnya.
Meski demikian, Dewantoro tidak menampik bahwa tantangan dalam dunia jurnalistik tetap ada, terutama ketika meliput isu-isu yang sensitif dan berkaitan dengan kepentingan banyak pihak. Ia mencontohkan kasus di Batang Toru yang melibatkan proyek energi dan menimbulkan berbagai persoalan di lapangan. “Kalau bicara soal tantangan, banyak. Itu kasus per kasus misalnya di isu Batang Toru, tambang emas atau PLTA misalnya,” katanya.
Ia menggambarkan bagaimana kondisi sosial di masyarakat dapat menjadi tekanan tersendiri bagi jurnalis. Dalam situasi tertentu, masyarakat bisa terpecah antara yang mendukung dan menolak suatu proyek, sehingga menciptakan ketegangan di tingkat lokal. “Misalnya kita wawancara masyarakat yang menolak hadirnya PLTA, tapi tetangganya bekerja di proyek itu. Ada yang mengintimidasi, ada yang menyarankan untuk menjual tanah, atau bahkan mengucilkan,” jelasnya.
Tidak hanya itu, proses peliputan juga kerap berlangsung dalam situasi yang tidak nyaman. Aktivitas jurnalis dapat diawasi secara diam-diam oleh pihak tertentu, sehingga menimbulkan tekanan psikologis. “Kita wawancara itu ada warga yang merekam. Kita ngomong santai, tapi handphone terus mengarah. Seolah-olah tidak ada masalah, padahal itu masalah besar,” ujarnya.
Tekanan tersebut bahkan tidak berhenti setelah proses peliputan selesai. Dewantoro mengungkapkan bahwa jurnalis juga dapat mengalami gangguan berkelanjutan dalam bentuk komunikasi yang tidak wajar. “Selama 2–3 bulan handphone itu enggak pernah berhenti. Mereka menghubungi di waktu random dengan berbagai cara,” katanya.
Ia juga menceritakan bahwa hasil liputan yang telah dikumpulkan pun tidak selalu dapat disampaikan dengan aman. Dalam beberapa kasus, upaya diseminasi justru mendapatkan gangguan dari pihak tidak dikenal. “Waktu didiseminasikan di Jakarta, ada orang tak dikenal yang datang untuk membubarkan diskusi itu,” tambahnya.
Selain perspektif jurnalistik, workshop ini juga menghadirkan Presley Simangunsong yang memberikan pandangan dari sisi konten kreatif. Ia menilai bahwa pendekatan komunikasi yang tepat menjadi kunci agar isu lingkungan dapat diterima oleh masyarakat luas, terutama di era media sosial. Menurutnya, penyampaian yang terlalu kaku justru berpotensi membuat audiens kehilangan minat. Sebaliknya, konten yang dikemas secara kreatif dan menarik dapat menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan yang kompleks dengan cara yang lebih mudah dipahami.
Ia juga menekankan bahwa visual dan storytelling memiliki peran yang sangat penting dalam menarik perhatian audiens, terutama di tengah derasnya arus informasi di media sosial. “Sekarang ini zamannya visual, jadi kalau kita nggak kreatif dalam menyampaikan pesan, ya pesan itu cuma bakal lewat gitu aja,” jelasnya.
Presley turut mengapresiasi antusiasme peserta selama kegiatan berlangsung. Ia melihat bahwa peserta tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi juga aktif bertanya dan menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap materi yang disampaikan. Ia menilai bahwa hal tersebut menjadi indikator bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam gerakan lingkungan, khususnya melalui platform digital yang mereka miliki. “Mereka punya energi yang besar buat ngebawa perubahan lewat media sosial mereka masing-masing,” katanya.
Di akhir sesi, ia berpesan agar peserta tidak berhenti belajar dan terus mencoba mengembangkan kemampuan yang telah didapatkan selama workshop. “Jangan takut salah, jangan takut kontennya nggak ada yang nonton di awal, yang penting konsisten,” pesannya. Ia juga berharap ke depan akan semakin banyak anak muda di Sumatera Utara yang aktif menyuarakan isu lingkungan melalui konten digital yang kreatif dan berdampak. (ESZ)