Oleh: Assyifa
Scroll media sosial, melihat teman baru dilantik menjadi pengurus, membagikan sertifikat, atau mengunggah pengalaman baru. Tanpa sadar, muncul pikiran, “Aku kapan?” Perasaan tertinggal inilah yang membuat sebagian mahasiswa mulai mengejar berbagai kegiatan, termasuk organisasi. Bukan hanya untuk belajar, tetapi juga agar tidak merasa kalah dalam perlombaan pencapaian.
Bagi mahasiswa, organisasi sering menjadi ruang untuk mengembangkan diri sebelum memasuki dunia kerja. Melalui organisasi, mahasiswa dapat belajar kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, hingga membangun relasi. Berbagai kemampuan tersebut menjadi nilai tambah yang dapat mendukung kesiapan mahasiswa di dunia profesional.
Namun, di tengah budaya produktivitas yang semakin kuat, organisasi perlahan tidak hanya dipandang sebagai tempat bertumbuh, tetapi juga sebagai bagian dari perlombaan mengisi CV. Ketika jumlah pengalaman mulai dianggap sebagai ukuran keberhasilan, batas antara pengembangan diri dan pembuktian diri pun semakin tipis.
Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) tidak hanya terjadi dalam kehidupan sosial, tetapi juga dalam perjalanan akademik dan organisasi mahasiswa. Melihat teman mendapatkan posisi kepengurusan, mengikuti berbagai kegiatan, atau memiliki daftar pengalaman yang panjang dapat memunculkan rasa khawatir akan tertinggal. Akibatnya, sebagian mahasiswa memilih mengambil berbagai kesempatan bukan karena benar-benar tertarik, melainkan karena merasa harus memiliki pencapaian yang sama dengan orang lain.
Padahal, pengalaman organisasi bukan tentang seberapa banyak posisi atau kegiatan yang berhasil dikumpulkan. Kualitas proses dan pembelajaran yang diperoleh jauh lebih penting dibandingkan jumlah aktivitas yang tercantum dalam daftar pengalaman.
Keinginan untuk terus aktif juga dapat membawa tekanan tersendiri. Ketika mahasiswa merasa harus selalu terlibat dalam berbagai kegiatan, batas antara produktif dan memaksakan diri menjadi semakin sulit dibedakan. Banyaknya tanggung jawab organisasi, kepanitiaan, dan aktivitas lain dapat membuat mahasiswa kesulitan membagi waktu, kehilangan waktu istirahat, hingga mengganggu fokus akademik.
Alih-alih menjadi ruang untuk berkembang, organisasi justru dapat berubah menjadi sumber tekanan apabila mahasiswa menjalankannya hanya untuk memenuhi ekspektasi lingkungan atau mengejar pengakuan. Aktivitas yang awalnya bertujuan menambah pengalaman perlahan terasa seperti kewajiban untuk terus membuktikan kemampuan diri.
Di sisi lain, pengalaman organisasi tetap memiliki manfaat besar ketika dijalani dengan tujuan yang jelas. Saat memasuki dunia kerja, perusahaan tidak hanya melihat panjangnya daftar organisasi dalam CV, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menjelaskan kontribusi, proses belajar, dan kemampuan yang diperoleh dari pengalaman tersebut.
CV yang penuh belum tentu menunjukkan kesiapan seseorang apabila pengalaman di dalamnya hanya dikumpulkan sebagai formalitas. Sebaliknya, pengalaman yang sederhana dapat menjadi bernilai ketika memberikan pembelajaran dan membentuk kemampuan diri.
Pada akhirnya, mahasiswa tidak perlu mengikuti setiap kesempatan yang datang hanya karena takut tertinggal. Pilihlah organisasi yang sesuai dengan tujuan dan minat pribadi, serta pahami alasan di balik setiap keterlibatan yang dijalani. Sebab, organisasi bukanlah perlombaan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pencapaian, melainkan sebuah proses belajar untuk berkembang dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Referensi:
https://jurnalilmiah.org/journal/index.php/mediasi/article/view/750/556
https://www.duniakampus.id/dampak-negatif-mengikuti-organisasi-mahasiswa/