Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
PORTAL BERITA
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
LPM Neraca
Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
Beranda Artikel

Nostalgia Kembali ke 16 Tahun yang Lalu, Avatar: The Last Airbender Versi Netflix Menghadirkan Kedalaman Cerita yang Lebih Kompleks

lpmneraca oleh lpmneraca
April 3, 2024
dalam Artikel
0 0
0
158
PENONTON
Share on FacebookShare on Twitter

Artikel oleh Vinna Wijayanti

Setelah sukses dengan adaptasi live-action One Piece, Netflix kembali mempersembahkan karya adaptasi dari serial animasi yang legendaris, yaitu Avatar: The Last Airbender atau Avatar: The Legend of Aang. Serial yang telah dinanti sejak 2018 ini dikembangkan oleh Albert Kim sebagai showrunner. Mulai 22 Februari 2024, Netflix menayangkan serial ini dengan total 8 episode.

Bagi mereka yang menghabiskan masa kecil dan remaja pada era 2000-an, tentu tidak asing lagi dengan serial animasi Avatar: The Last Airbender atau Avatar: The Legend of Aang yang selalu ditayangkan di Global TV. Setelah 16 tahun berlalu sejak episode terakhir The Last Airbender, Netflix akhirnya memperkenalkan versi live-actionnya yang juga diberi judul Avatar: The Last Airbender.

Jika kita mengingat kembali tahun 2010, Paramount Pictures pernah merilis film live-action The Last Airbender (2010) yang mendapat banyak kritik negatif karena tidak setia pada versi animasinya. Harapan pun muncul dari para penggemar bahwa adaptasi live-action The Last Airbender versi Netflix ini dapat memberikan pengalaman yang lebih memuaskan. Dalam serial live-action ini, kita akan melihat Gordon Cormier memerankan karakter Aang, Kiawentiio sebagai Katara, Ian Ousley sebagai Sokka, Dallas Liu sebagai Zuko, dan masih banyak lagi.

Avatar: The Last Airbender mengisahkan perjalanan Aang yang menjadi Avatar ketika baru berusia 12 tahun. Sebagai seorang anak pengendali udara yang dipilih sebagai Avatar, Aang bertanggung jawab menjaga keseimbangan di dunia. Namun, tak siap dengan beban tanggung jawab tersebut, Aang memutuskan untuk melarikan diri hingga akhirnya terperangkap dalam badai dan tubuhnya membeku selama 100 tahun. Ketika akhirnya ia dibebaskan dari es, dunia telah berubah drastis dari yang pernah ia kenal.

Film live-action The Last Airbender pada tahun 2010 mendapat kritik pedas dari kritikus maupun penggemar, karena tidak mengikuti dengan baik konsep dan cerita yang telah terbentuk dengan baik dalam versi animasinya. Namun, adaptasi live-action versi Netflix ini menjanjikan hal yang berbeda. Dengan total 8 episode, Netflix berhasil merangkum cerita Book Water yang memiliki 20 episode dalam versi animasinya. Showrunner Albert Kim dan timnya berhasil menghadirkan adaptasi yang memuaskan.

Avatar: The Last Airbender versi Netflix membuktikan bahwa adaptasi film atau serial masih mampu mempertahankan esensi dari sumber aslinya, meskipun dengan beberapa modifikasi. Modifikasi yang dilakukan justru memberikan kedalaman baru pada cerita yang sudah bagus dari versi animasinya. Dalam versi live-action ini, kita dapat merasakan emosi yang lebih kuat dan kompleksitas yang lebih dalam dari setiap karakternya.

Desain karakter, latar tempat, dan soundtrack yang digunakan juga berhasil menghadirkan nuansa nostalgia yang kuat kepada penggemar serial animasinya. Setelah menonton seluruh episodenya, kita dapat melihat betapa konsistennya Albert Kim dan timnya dalam mempertahankan desain karakter dan penggambaran latar tempat yang sesuai dengan versi animasinya. Bahkan, pengendalian elemen oleh para karakternya dieksekusi dengan sangat baik, menghadirkan koreografi yang memukau.

Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kekurangan terutama pada bagian CGI yang belum sepenuhnya sempurna. Hal ini mungkin disebabkan oleh kompleksitas dunia Avatar dan pergerakan dalam mengendalikan elemen yang sulit untuk direplikasi. Namun, hal tersebut tidak mengganggu keseluruhan pengalaman menonton.

Penggunaan soundtrack dari versi animasi juga memberikan sentuhan nostalgia yang kuat. Tidak ada perubahan pada soundtrack yang telah dikenal oleh para penggemar, sehingga membawa kita kembali kepada kenangan masa kecil saat menonton versi animasinya.

Secara keseluruhan, Avatar: The Last Airbender versi Netflix membuktikan bahwa adaptasi serial masih mampu mempertahankan esensi sumber aslinya. Modifikasi yang diterapkan pada cerita justru memberikan kedalaman baru pada kisah Aang dan teman-temannya, sehingga menghadirkan pengalaman yang lebih kompleks dan emosional tanpa merusak inti cerita utamanya.

Source gambar : Netflix

Referensi

https://kincir.com/movie/review-serial-avatar-the-last-airbender/

https://kumparan.com/kumparanhits/review-avatar-the-last-airbender-netflix-makin-jago-buat-serial-live-action-22DHRnHPkbl

Tag: avatar the movieAvatar: The Last Airbenderlive action avatarNetflix

Terkait Pos-pos

Artikel

Bukit Lawang, Destinasi Ekowisata Orangutan di Sumatra Utara

oleh lpmneraca
Mei 16, 2026
0

Penulis: Agnes Anggriani Lumban GaolBukit Lawang merupakan sebuah desa wisata yang terletak di tepi Sungai Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara....

Baca lebih lanjut

“Laut Bercerita”: Kisah Aktivisme dan Jejak yang Hilang di Penghujung Orde Baru

Mei 14, 2026

Na Willa: Cara Sederhana Film Ini Mengajak Kita Kembali Jadi Anak-Anak

Mei 3, 2026

Makna Lagu “Bila” Raisa: Perjalanan Emosional dari Penolakan hingga Keikhlasan

April 26, 2026

Femisida: Kegagalan Negara Untuk Melindungi Perempuan

April 9, 2026

Dubai Chewy Cookie:Tren Kuliner Viral dengan Tekstur Unik dan Cerita Menarik

April 8, 2026

Popular Posts

Umum

Polemik Revitalisasi Gereja Oikumene Chapel USU, Transparansi dan Komunikasi Dipertanyakan

oleh lpmneraca
Mei 25, 2026
0

Medan | Neraca - Gedung Gereja Oikumene Chapel Universitas Sumatera Utara menjadi sorotan setelah penutupan dan pengosongan gedung menggunakan pagar...

Baca lebih lanjut

Polemik Revitalisasi Gereja Oikumene Chapel USU, Transparansi dan Komunikasi Dipertanyakan

Di Balik Prestasi Akbar Fiki: Semangat, Dedikasi, dan Tekad Mahasiswa Polmed Menuju LLDikti Wilayah I

Lumira Organizer Gelar Kegiatan Edukasi Self-Love Untuk Anak-anak SaSuDe

BEM Politeknik Negeri Medan Gelar Nonton Bareng Film Dokumenter “PESTA BABI”

ESSENCE Presentation Competition 2026, Mahasiswa AB-4B Polmed Asah Ide dan Public Speaking

HMPS TRJT Gelar Debat Kandidat 2026/2027, Tekankan Objektivitas dan Kesiapan Calon

Muat Lebih Banyak


Popular Posts

Kekecewaan Cinta dalam Lagu ‘I Don’t Love You’ dari My Chemical Romance

oleh lpmneraca
Maret 15, 2024
0

Birds of a Feather Karya Billie Eilish Ungkapkan Cinta yang Obsesif dan Posesif

oleh lpmneraca
Juli 17, 2024
0

Drunk Text by Henry Moodie: Mengungkap Perasaan Cinta Dalam Diam dan Ketakutan Friendzone

oleh lpmneraca
Februari 20, 2024
0

LPM Neraca

© 2024 LPM Neraca Polmed

Contacts

Follow Us

Tiada Hasil
Tinjau Semua Hasil
  • Beranda
  • Kampus
    • KEMA
    • BEM
    • DPM
    • LPM
    • UKM
    • HMPS
  • Umum
  • Sastra
    • Cerpen
    • Puisi
  • Ekonomi
  • Publikasi
    • Buletin
    • Majalah
  • Opini
  • Tips dan Trik
  • Tentang Kami

© 2024 LPM Neraca Polmed

Selamat Datang Kembali!

Masuk ke akun Anda di bawah ini

Lupa Kata Sandi?

Buat Akun Baru!

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Semua bidang diisi. Masuk

Dapatkan kembali kata sandi Anda

Silakan masukkan nama pengguna atau alamat email Anda untuk mengatur ulang kata sandi Anda.

Masuk

Tambahkan Daftar Putar Baru