Medan | Neraca – Di tengah padatnya jadwal magang dan tumpukan tanggung jawab akademik, Akbar Fiki berhasil menorehkan prestasi membanggakan di ajang Mahasiswa Berprestasi tingkat LLDikti Wilayah I. Mahasiswa Politeknik Negeri Medan ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bersinar.
Akbar, mahasiswa semester akhir Program Studi Teknologi Rekayasa Instalasi Listrik, mengaku perjalanannya menuju ajang prestisius tersebut tidak mudah. Sebagai penerima beasiswa KIP-K, ia memandang setiap kesempatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
“Saya menyadari bahwa perjalanan pendidikan yang saya jalani hingga hari ini tidak terlepas dari dukungan negara dan masyarakat, termasuk melalui pajak yang dibayarkan oleh rakyat,” ungkap anak ketiga dari tiga bersaudara yang lahir dan besar di Kota Medan ini.
Membagi Waktu di Tengah Magang dan Kompetisi
Tantangan terbesar yang dihadapi Akbar adalah membagi fokus antara persiapan kompetisi dengan tanggung jawab magang di PT Indonesia Aluminium Alloy. Ia kerap menyelesaikan laporan dan mempersiapkan presentasi di perjalanan, bahkan hingga larut malam.
“Ada banyak momen di mana saya harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Saya harus mengurangi waktu istirahat agar semua tanggung jawab dapat terselesaikan dengan baik,” kenangnya.
Meski demikian, Akbar tidak pernah memandang tekanan sebagai hambatan. Baginya, setiap tantangan justru menjadi motivasi untuk terus berkembang dan keluar dari zona nyaman.
Dukungan Penuh dari Kampus dan Keluarga
Berbeda dengan pengalaman sebagian mahasiswa yang menghadapi kendala birokrasi, Akbar justru merasakan dukungan luar biasa dari Politeknik Negeri Medan. Bimbingan intensif dari dosen pembimbing, bantuan administrasi dari Wakil Direktur III, hingga dukungan transportasi menjadi bekal berharga selama kompetisi.
Sosok yang paling berperan dalam perjalanannya adalah orang tua dan Ketua Program Studi, Ir. Abdullah, S.Si., M.T. Melalui program pengembangan bakat dan minat mahasiswa yang dijalankan sang dosen, Akbar mendapat dorongan untuk terus mengeksplorasi potensi diri.
“Beliau bukan hanya seorang dosen, tetapi juga mentor yang banyak memberikan arahan dan motivasi,” ujar Akbar yang juga menjabat sebagai Vice President di Society of Renewable Energy Polmed.
Harapan untuk Kampus: Sistem Pembinaan yang Lebih Terstruktur
Meski merasa beruntung mendapat dukungan penuh, Akbar melihat masih ada ruang untuk perbaikan. Ia berharap kampus dapat membangun sistem pembinaan prestasi yang lebih terpusat dan berkelanjutan.
“Banyak mahasiswa Polmed yang sebenarnya memiliki kapasitas besar, tetapi belum mendapatkan pendampingan yang cukup terarah sejak awal,” jelasnya.
Akbar mengusulkan pembentukan pusat pengembangan prestasi mahasiswa yang fokus pada mentoring, pemusatan latihan kompetisi, pendampingan riset, hingga penguatan soft skill dan public speaking.
“Saya percaya bahwa mahasiswa merupakan representasi dan garda terdepan yang membawa nama baik kampus. Investasi terbesar kampus sebenarnya bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pembangunan kualitas mahasiswanya,” tegasnya.
Bukti Bahwa Beasiswa Negara Tidak Sia-Sia
Bagi Akbar, kemenangan ini bukan sekadar pencapaian pribadi. Lebih dari itu, ia ingin membuktikan bahwa dukungan yang diberikan kepada mahasiswa penerima beasiswa dapat benar-benar menghasilkan dampak nyata.
“Saya ingin menunjukkan bahwa kesempatan yang diberikan negara mampu melahirkan mahasiswa yang mau berkembang, bekerja keras, dan berusaha memberikan kontribusi nyata,” katanya.
Di tengah masih banyaknya mahasiswa yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan, Akbar berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi. Bahwa latar belakang ekonomi bukan penentu masa depan yang menentukan adalah usaha, komitmen, dan kemauan untuk terus berjuang.
“Pada akhirnya, yang menentukan bukan hanya dari mana kita berasal, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk terus berkembang dan memberikan manfaat bagi banyak orang,” pungkasnya. (SAS)